Bisnis / Energi
Selasa, 30 Juni 2026 | 09:20 WIB
Ilustrasi fasilitas minyak mentah. [Pexels]
Baca 10 detik
  • Harga minyak dunia melemah pada Selasa (30/6/2026) karena investor menanti hasil perundingan Amerika Serikat dan Iran di Doha.
  • Ketidakpastian negosiasi dan ketegangan geopolitik di Selat Hormuz menyebabkan fluktuasi harga pada minyak mentah Brent serta West Texas Intermediate.
  • Goldman Sachs memproyeksikan pasokan minyak dari Teluk Persia kembali normal mencapai 23 juta barel per hari pada awal Juli.

Suara.com - Harga minyak dunia bergerak melemah pada perdagangan Selasa (30/6/2026). Para investor tengah mencermati potensi hasil perundingan antara Amerika Serikat dan Iran di Doha, Qatar, meskipun ketegangan akhir pekan lalu sempat menguji gencatan senjata sementara yang bertujuan mengakhiri perang empat bulan terakhir.

Mengutip dari Reuters, harga minyak mentah Brent untuk pengiriman Agustus turun 1,03 persen atau 75 sen menjadi 72,40 dolar AS per barel pada pukul 00.38 GMT (07.38 WIB).

Sementara itu, kontrak September yang lebih aktif diperdagangkan melemah 0,54 persen atau 40 sen ke level 73,51 dolar AS per barel. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS juga merosot 0,66 persen atau 47 sen menjadi 70,32 dolar AS per barel.

Analis Pasar Utama KCM Trade, Tim Waterer, menilai koreksi harga ini mencerminkan harapan pasar terhadap hasil positif dari pertemuan di Doha, meskipun pemulihan arus logistik di Selat Hormuz belum sepenuhnya terlihat secara riil.

"Pasar menaruh harapan dengan hati-hati tetapi masih berjaga-jaga sampai kita melihat tanda-tanda de-eskalasi yang lebih nyata," sebut Tim Waterer.

Meski rencana pertemuan di Doha menjadi sentimen utama, kepastian dialog langsung antar kedua negara masih diliputi ketidakpastian.

Ilustrasi Selat Hormuz (Google Gemini)

Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, menyatakan tim ahli dari Iran dan Oman akan segera bertemu untuk membahas pengaturan ulang jalur transit di Selat Hormuz.

Namun, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menegaskan tidak akan ada pertemuan negosiasi dalam level apa pun dengan pihak AS dalam waktu dekat.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump, menyatakan di Gedung Putih pertemuan di Doha bisa jadi krusial bagi peta jalan perdamaian. Ketidakpastian ini semakin menegaskan rapuhnya kesepakatan gencatan senjata yang diteken pada 17 Juni lalu.

Baca Juga: Kilang Terbesar Arab Kembali Dibuka, Harga Minyak Dunia Mulai Stabil

Pemulihan jalur Selat Hormuz ini krusial bagi pasar global serta menjadi tantangan politik bagi Trump menjelang pemilu sela Kongres pada November mendatang.

Di tengah proses ini, Israel memilih menjauh dan tidak ikut serta dalam pembicaraan damai tersebut.

Berdasarkan data pengapalan terbaru, para produsen minyak di Timur Tengah tetap melanjutkan aktivitas pemuatan minyak mentah dan LNG (gas alam cair).

Operasional logistik tetap berjalan meskipun sempat terjadi serangan baru terhadap kapal tanker serta saling balas serangan udara antara AS dan Iran dalam beberapa hari terakhir.

Dalam riset tertanggal 29 Juni, analis Goldman Sachs memproyeksikan arus pasokan minyak dari Teluk Persia berpotensi kembali ke level sebelum perang, yakni sebesar 23 juta barel per hari pada awal Juli mendatang.

Estimasi ini merujuk pada tren pemulihan volume pasokan dalam dua pekan terakhir, di mana lalu lintas kapal tanker pada minggu lalu mencatatkan level tertinggi sejak konflik pertama kali pecah di akhir Februari.

Load More