- Nilai tukar rupiah melemah 32 poin menjadi Rp17.984 per dolar AS pada perdagangan Kamis, 2 Juli 2026.
- Pelemahan rupiah dipicu oleh penguatan dolar AS akibat ekspektasi kenaikan suku bunga serta tekanan jual investor asing.
- Berbeda dengan rupiah, mayoritas mata uang di kawasan Asia justru mencatatkan penguatan terhadap dolar AS hari ini.
Suara.com - Rupiah belum menunjukkan tanda bangkit terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada sore ini. Mata uang Garuda pun masih belum keluar dari zona merah.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah Kamis 2 Juli 2026 dibuka ke level Rp17.984 per dolar Amerika Serikat (AS).
Angka ini melemah 32 poin atau 0,18 persen dari hari sebelumnya yang ada di Rp17.52 per dolar AS. Dalam hal ini, Analis dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan pelemahan ini disebabkan dolar AS yang menguat.
"Rupiah diperkirakan masih tertekan dolar AS di tengah kenaikan imbal hasil obligasi AS oleh ekspektasi kenaikan suku bunga oleh the Fed yg meningkat menjelang rilis data pekerjaan AS NFP malam ini," katanya saat dihubungi Suara.com.
Selain faktor global, dia menambahkan rupiah masih tertekan dengan sentimen domestik. Sehingga, mata uang Garuda bisa kembali ke level Rp18.000.
"Sentimen domestik juga masih belum pulih dari tekanan jual investor asing. Range 17900-18050," ujarnya.
Pelemahan rupiah berbanding terbalik dengan mayoritas mata uang Asia yang menguat terhadap dolar AS. Ringgit Malaysia menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di Asia setelah melesat 0,21 persen.
Diikuti, baht Thailand yang terkerek 0,07 persen. Berikutnya, yuan China terangkat 0,06 persen. Lalu, dolar Taiwan dan peso Filipina sama-sama menanjak 0,05 persen di pagi ini.
Kemudian, yen Jepang terapresiasi 0,04 persen dan dolar Singapura naik 0,03 persen. Disusul, dolar Hong Kong menguat tipis 0,01 persen terhadap the greenback.
Baca Juga: Cara Menakar Nilai Wajar Mata Uang, Analis Ungkap Kunci Baca Arah Rupiah hingga Dolar
Berita Terkait
-
Rupiah Terperosok Jatuh ke Level Rp17.843/Dolar AS
-
Rupiah Kembali Melemah Meski BI-Rate Naik 100 bps, Pakar Ungkap Penyebabnya
-
Rupiah Diramal Ambruk ke Rp18.000, Harga Emas Berpotensi Anjlok Rp20.000 Hari Ini, Ada Apa?
-
Rupiah Terus Melemah, Bank Mega Syariah Jamin Kinerja Kredit Komersial Tak Kendur
-
Rupiah Menguat dan IHSG Rebound, Pelaku Usaha Nilai Kepercayaan Pasar ke RI Mulai Pulih
Terpopuler
- Link Download Logo dan Tema HUT Bhayangkara ke-80 2026 untuk Ulang Tahun Polri
- 4 Sepatu Lari Skechers yang Diskon sampai 50 Persen di Sport Station, Mulai Rp500 Ribuan
- Sunscreen Apa yang Bikin Glowing? Ini 7 Pilihan Terbaik sesuai Review dan Harga
- 6 Sunscreen di Alfamart untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review
- 5 Sepeda Gunung MTB Polygon Termurah, Tangguh dan Awet Untuk Harian
Pilihan
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
-
Prabowo: Hukum Tak Boleh Dipakai untuk Balas Dendam Politik
Terkini
-
Tahan Beli, Harga Emas Antam Naik Jadi Rp2,64 Juta/Gram
-
IHSG Lanjut Reli Penguatan, Bergerak Level 5.700 Pagi Ini
-
Masa Penawaran Emiten Raffi Ahmad RANS Dibuka Hari Ini, Harganya Rp170
-
Harga Minyak Dunia Anjlok Usai Iran dan AS Capai Kemajuan Negosiasi, Brent Turun ke 70 Dolar AS
-
Itung-itungan Driver Ojol, Kenapa Pendapatannya Turun Setelah Potongan 8% Berlaku
-
Cara Menakar Nilai Wajar Mata Uang, Analis Ungkap Kunci Baca Arah Rupiah hingga Dolar
-
Survei: 78,6% Konsumen Nilai Haknya Diabaikan dalam Aturan Rokok Terbaru
-
BBCA Diramal Belum Bisa Tembus Rp6.000 Hari Ini
-
UMKM Indonesia Berpeluang Jadi Motor Baru Ekspor, Ini Syaratnya
-
Transformasi IT, BSI Bidik Masuk Top 5 Bank Syariah Global