- Rupiah menguat dan IHSG rebound, sinyal kepercayaan pasar membaik.
- Pelaku usaha nilai fondasi ekonomi Indonesia tetap kuat.
- Investor dinilai merespons positif arah kebijakan pemerintah.
Suara.com - Optimisme terhadap prospek ekonomi Indonesia kembali menguat seiring membaiknya sejumlah indikator pasar keuangan dalam beberapa hari terakhir. Penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dan rebound Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dinilai menjadi sinyal bahwa kepercayaan pasar terhadap perekonomian nasional mulai pulih.
Bendahara Umum Tidar Jakarta Barat sekaligus pengusaha, Noverizky Tri Putra, menilai perkembangan tersebut menunjukkan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat di tengah berbagai tantangan global yang terus berlangsung.
Menurut dia, penguatan rupiah dan pergerakan positif IHSG menjadi indikator bahwa investor masih menaruh kepercayaan terhadap arah kebijakan ekonomi nasional.
"Penguatan rupiah dan membaiknya IHSG merupakan sinyal positif bahwa kepercayaan investor terhadap Indonesia tetap terjaga. Ini menunjukkan pasar melihat adanya arah kebijakan yang jelas dan optimisme terhadap masa depan ekonomi nasional," ujar Noverizky dalam keterangannya, Jumat (19/6/2026).
Ia mengatakan, meski perekonomian global masih dibayangi ketidakpastian geopolitik, perlambatan ekonomi dunia, hingga dinamika perdagangan internasional, Indonesia dinilai mampu menjaga stabilitas ekonomi secara relatif baik.
Noverizky menilai berbagai kebijakan yang dijalankan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto mulai mendapatkan respons positif dari pelaku pasar dan dunia usaha. Menurutnya, pemerintah tengah membangun fondasi pertumbuhan jangka panjang melalui sejumlah program strategis yang berorientasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Beberapa program yang dimaksud antara lain hilirisasi industri, penguatan ketahanan pangan, peningkatan investasi, pembangunan sumber daya manusia, hingga berbagai kebijakan yang bertujuan menjaga daya beli masyarakat.
"Kita tidak bisa menilai keberhasilan sebuah pemerintahan hanya dalam hitungan beberapa bulan. Kebijakan ekonomi membutuhkan proses, konsistensi, dan stabilitas agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat," katanya.
Sebagai pelaku usaha, Noverizky mengaku masih melihat prospek yang menjanjikan bagi perekonomian Indonesia dalam beberapa tahun mendatang. Ia menilai pasar domestik yang besar, bonus demografi, kekayaan sumber daya alam, serta posisi strategis Indonesia di kawasan Asia menjadi modal kuat untuk menarik investasi.
Baca Juga: Rupiah Melemah Tipis, Dolar AS Masih Nyaman di Level Rp17.804
Menurutnya, investor pada dasarnya membutuhkan kepastian regulasi dan konsistensi kebijakan. Karena itu, stabilitas politik dan ekonomi menjadi faktor penting dalam menjaga arus investasi ke Indonesia.
"Investor pada dasarnya mencari kepastian. Ketika pemerintah mampu menjaga stabilitas politik, kepastian regulasi, dan konsistensi kebijakan, maka kepercayaan akan terus meningkat. Kita mulai melihat tanda-tanda ke arah sana," ujarnya.
Noverizky juga mengajak masyarakat untuk melihat perkembangan ekonomi secara objektif dan tidak terburu-buru menarik kesimpulan negatif terhadap berbagai dinamika yang terjadi. Ia menilai setiap pemerintahan pasti menghadapi tantangan dalam menjalankan program-program besar yang membutuhkan waktu untuk menghasilkan dampak nyata.
Karena itu, ia meminta masyarakat memberikan ruang bagi pemerintah untuk mengeksekusi agenda pembangunan ekonomi yang telah dirancang.
Menurut Noverizky, optimisme menjadi salah satu modal penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Ketika pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat memiliki keyakinan yang sama terhadap masa depan ekonomi nasional, aktivitas ekonomi diyakini akan bergerak lebih cepat.
"Yang dibutuhkan saat ini adalah kolaborasi. Pemerintah bekerja menjalankan programnya, dunia usaha terus berinvestasi dan menciptakan lapangan pekerjaan, sementara masyarakat tetap produktif dan optimistis. Dengan cara itu, saya percaya ekonomi Indonesia akan semakin baik ke depan," tuturnya.
Ia menambahkan, penguatan rupiah dan rebound IHSG harus dimaknai sebagai momentum untuk memperkuat kepercayaan terhadap perekonomian nasional.
"Penguatan rupiah dan IHSG bukan sekadar angka. Itu mencerminkan harapan, kepercayaan, dan ekspektasi terhadap masa depan Indonesia. Kita patut optimistis bahwa dengan kerja keras dan konsistensi kebijakan, ekonomi Indonesia akan terus bergerak ke arah yang lebih baik," pungkasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Jadwal Pemadaman Listrik PLN Kamis 18 Juni 2026 Wilayah Jogja Jateng, Cek Daftar Lokasinya
- Motor Baru Harley-Davidson Harga Cuma Rp40 Jutaan, Tenaga Setara Motor 250cc
- 4 Rekomendasi Tablet Mini Serbaguna: Nyaman Digenggam, Muat Tas Kecil
- Viva Sunscreen Foundation SPF Berapa? Banyak Dapat Review Positif dari Pengguna
- KPK Ungkap Dugaan Modus 'Pinjam Bendera' di Proyek Gedung Pemkab Lamongan Rp151 Miliar
Pilihan
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
-
Ketegangan Memuncak di Hotel Sultan: Eksekusi Lahan Jadi Arena Perlawanan
-
'Sempurna Hanya Milik Allah!' Massa Gelar Aksi Damai Minta MBG Lanjut dan Sikat Koruptornya!
Terkini
-
Minat PIP Naik Saat Ancaman PHK Membayangi, Ekonom Minta Pemerintah Fokus Selamatkan Lapangan Kerja
-
Purbaya Kantongi Restu dari Bank Sentral China, Panda Bond Segera Terbit
-
Oleh-oleh Purbaya dari China: Asian Infrastructure Investment Bank Segera Buka Kantor di RI
-
Kejati: Kerugian Negara Rp1,4 Triliun Pulih Sepenuhnya, Perbankan Tidak Terafiliasi Dana Ilegal
-
Rupiah Melemah Tipis, Dolar AS Masih Nyaman di Level Rp17.804
-
BSI Implementasikan Green Zakat, Sampah Anorganik Bisa Jadi Tabungan Emas
-
Dua Pembangkit Alami Gangguan Jadi Biang Kerok Listrik di Jawa Padam Bergilir
-
BRI KKB Hadirkan Promo Pembiayaan Mobil Listrik, Bunga Mulai 3% Flat hingga 31 Agustus 2026
-
Anak Muda Ramai Investasi tapi Tak Paham Cara Kerjanya, IPOT Ungkap Penyebabnya
-
Punya Nahkoda Baru, Eks Direksi Telkom Budi Setyawan Jadi Bos Pelni