Bisnis / Keuangan
Kamis, 02 Juli 2026 | 16:12 WIB
Saham BBNI dinilai analis sudah murah. (Dok: BNI)
Baca 10 detik
  • KB Valbury Sekuritas menyatakan saham BBNI kini dinilai terlalu murah dibandingkan fundamentalnya meski telah terkoreksi signifikan sepanjang tahun.
  • BBNI mencatatkan kinerja positif dengan pertumbuhan laba bersih dan penyaluran kredit yang melampaui target selama periode awal 2026.
  • KB Valbury menetapkan rekomendasi beli dengan target harga Rp4.720 per saham karena valuasi saat ini dianggap sangat menarik.

Suara.com - Saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) dinilai sudah terlalu murah, bahkan di bawah nilai wajarnya.

Pada hari ini saja saham BBNI diperdagangankan di harga Rp3.170 per saham naik 70 poin atau 2,26 persen.

Namun, berdasarkan riset KB Valbury Sekuritas, saham emiten perbankan pelat merah itu telah turun sekitar 24 persen secara year to date (YTD) dan terkoreksi 34,9 persen dari level tertingginya pada 2026.

Pelemahan tersebut dinilai lebih dipengaruhi oleh sentimen investor asing dan berbagai faktor domestik dibandingkan memburuknya fundamental perseroan.

Ilustrasi layanan perbankan BNI. (Dok: BNI)

KB Valbury menilai aksi jual yang terjadi membuat valuasi saham BBNI menjadi sangat menarik.

Saat ini, saham BBNI diperdagangkan pada price to book value (P/B) sekitar 0,7 kali, berada di bawah level -2 standar deviasi, sehingga membuka peluang masuk yang menarik bagi investor.

KBVS Research Akhmad Nurcahyadi mengatakan pelemahan harga saham BBNI tidak sejalan dengan kondisi fundamental perusahaan yang masih solid.

"Menurut kami, penurunan harga saham BBNI sudah terlalu dalam dan tidak lagi mencerminkan fundamental perseroan. Dengan kondisi valuasi saat ini, saham BBNI menawarkan peluang investasi yang menarik bagi investor jangka panjang," ujar Akhmad dalam risetnya seperti dikutip, Kamis (2/7/2026).

Ia menjelaskan, sepanjang lima bulan pertama 2026, BBNI membukukan laba bersih bank induk sebesar Rp9,05 triliun, tumbuh 7,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Capaian tersebut dinilai sejalan dengan proyeksi KB Valbury maupun konsensus pasar.

Baca Juga: Saham Perbankan Masih Menarik, BBCA dan BMRI Layak Dikoleksi

Pertumbuhan bisnis juga tercermin dari penyaluran kredit yang melonjak 24,5 persen secara tahunan menjadi Rp940,88 triliun, jauh melampaui target pertumbuhan kredit perseroan tahun ini yang berada di kisaran 8-10 persen.

Di sisi pendanaan, dana pihak ketiga (DPK) meningkat 33,2 persen secara tahunan dengan pertumbuhan dana murah atau current account saving account (CASA) mencapai 26,8 persen. Rasio CASA tetap terjaga di level 68,3 persen, mencerminkan struktur pendanaan yang masih kuat.

Selain itu, kualitas aset juga dinilai tetap terjaga. Biaya kredit (cost of credit/CoC) tercatat 0,9 persen, lebih baik dibandingkan target manajemen yang berada pada kisaran 1,0-1,2 persen.

"Fundamental BBNI masih sangat kuat. Pertumbuhan kredit melampaui target, kualitas aset tetap terjaga, dan biaya kredit berada di bawah panduan manajemen. Kondisi ini memberikan keyakinan bahwa kinerja perseroan masih memiliki ruang untuk bertumbuh," kata Akhmad.

Meski demikian, KB Valbury mengingatkan masih terdapat sejumlah risiko yang perlu dicermati investor, di antaranya perlambatan pertumbuhan kredit, kenaikan biaya dana, tekanan terhadap margin bunga bersih (net interest margin/NIM), serta pelemahan nilai tukar rupiah.

Dengan mempertimbangkan valuasi yang menarik dan fundamental yang tetap kuat, KB Valbury mempertahankan rekomendasi Buy untuk saham BBNI dengan target harga Rp4.720 per saham.

Disclaimer: Artikel ini merupakan pandangan dan analisis pasar yang ditujukan sebagai informasi umum, bukan saran atau rekomendasi investasi. Keputusan investasi tetap berada di tangan pembaca, dan setiap risiko investasi menjadi tanggung jawab pribadi. Investor disarankan untuk melakukan riset mendalam sebelum mengambil keputusan.

Load More