Bisnis / Keuangan
Senin, 06 Juli 2026 | 14:34 WIB
Digital Marketing in the Age of AI, Marketeers TFB 2026 di CGV Grand Indonesia. (Dok: Marketeers)

Suara.com - Marketeers kembali menggelar ajang tahunan Marketeers Tech for Business (TFB) 2026, yang kini memasuki tahun kelimap enyelenggaraannya. Digelar di CGV Grand Indonesia, Jakarta, acara ini menjadi panggung utama untuk mengulas transformasi strategi digital marketing di tengah gelombang besar kecerdasan buatan yang kian mengubah lanskap bisnis.

Mengusung tema Digital Marketing in the Age of AI, Marketeers TFB 2026 menghadirkan berbagai insight dan perspektif terbaru yang menjadi panduan bagi para pelaku bisnis untuk tetap relevan dan kompetitif di pasar digital yang semakin didorong oleh teknologi AI.

Iwan Setiawan, COO of MCorp sekaligus salah satu penulis buku Marketing 7.0: A Guide for Thinking Marketeers in The Age of AI (Wiley, 2026), membuka Marketeers Tech for Business 2026 dengan menyoroti perubahan fundamental perilaku konsumen di era AI.

Menurut Iwan, setelah era Search pada 2000-an dan era Social pada 2010-an, kini Generative AI mulai menjadi pintu masuk utama konsumen dalam mencari informasi, produk, hingga rekomendasi. Perubahan ini mendorong pemasar untuk menyesuaikan strategi digital mereka dengan cara konsumen menemukan dan mengevaluasi brand.

“Orang mulai memanfaatkan satu komponen baru dalam mencari informasi, yaitu generative AI. Ini adalah consumer behavior yang trennya semakin menguat dalam beberapa tahun terakhir,” ujar Iwan.

Iwan menjelaskan bahwa AI kini tidak hanya berfungsi sebagai alat bantu produktivitas, tetapi juga berperan dalam proses discovery dan pengambilan keputusan konsumen. Karena itu, strategi digital marketing perlu berevolusi dari SEO (Search Engine Optimization) dan SMO (Social Media Optimization) menuju GEO (Generative Engine Optimization), agar brand lebih mudah ditemukan dan direkomendasikan oleh AI.

Untuk itu, Iwan menekankan bahwa brand masa kini harus menjadi AI-Friendly dengan memenuhi tiga kriteria utama, yakni Available (mudah ditemukan oleh AI), Authoritative (mudah dipercaya), dan Articulate (mudah dipahami). Brand yang memenuhi ketiga kriteria ini akan memiliki keunggulan kompetitif yang nyata di era pemasaran berbasis AI.

Sementara itu, Puput Widha Ardhana, VP Shared Services Human Capital PT Pertamina (Persero), menyoroti pentingnya kesiapan sumber daya manusia dalam menghadapi era AI. Menurutnya, tantangan terbesar perusahaan saat ini bukanlah teknologi, melainkan manusia yang harus mampu beradaptasi dengan perubahan.

Puput menyebut empat tantangan utama yang perlu diatasi, yakni AI literacy gap, change resistance, competency mismatch, dan leadership readiness.

Baca Juga: Mendagri Tito Hadiri Upacara Peringatan ke-80 Hari Bhayangkara di Bogor

"Tantangan terbesar yang kami hadapi bukan pada teknologinya, melainkan pada manusianya. Ada AI literacy gap, ada change resistance, ada competency mismatch, dan ada leadership readiness yang harus kami siapkan. Itulah mengapa kami membangun SS School, karena pada akhirnya, it's not the plane, it's the pilot," ujar Puput.

Tiga Track, Satu Visi: Marketing yang Lebih Cerdas

Sesi siang menghadirkan tiga breakout track yang berjalan paralel, masing-masing membahas aspek spesifik dari digital marketing berbasis AI dengan studi kasus nyata dari perusahaan lintas industri.

Track 1 berfokus pada tiga tantangan utama yang dihadapi pemasar modern.

Pertama, More Seamless Omnichannel Marketing — membahas bagaimana Brand membangun pengalaman pelanggan yang mulus di berbagai kanal, diisi oleh Thomas Wahyudi, Senior Executive Vice President BTN, dan George Brooker, Co-Founder Gateaway Media.

Kedua, More Effective Selling — mengulas strategi penjualan yang lebih tajam dan berbasis data di era AI, bersama Yudistira Adi Nugroho, Agency Business Lead Google Indonesia, dan Anton Jimmi Suwandy, Chief Executive Auto2000.

Load More