- Satgas PASTI OJK mengungkap kasus penipuan asmara digital yang mengakibatkan kerugian Rp120 miliar pada seorang akuntan di Medan.
- Pelaku menggunakan teknologi AI canggih untuk memanipulasi wajah dan suara guna membangun kepercayaan serta memikat korban secara emosional.
- OJK menekankan bahwa keterlambatan laporan korban menghambat upaya pelacakan aset, padahal total kerugian nasional mencapai Rp9,3 triliun sejak 2022.
Suara.com - Satuan Tugas Pemberantasan Aktivitas Keuangan Ilegal (Satgas PASTI) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) membongkar fenomena mencengangkan terkait maraknya kejahatan love scam atau penipuan berkedok hubungan asmara digital di tanah air.
Tidak main-main, seorang perempuan yang berprofesi sebagai akuntan publik di Kota Medan dilaporkan menjadi korban dengan total kerugian pribadi menembus angka Rp120 miliar.
Direktur Satgas PASTI OJK, Brigjen Pol Djoko Prihadi, mengungkapkan bahwa korban yang memiliki latar belakang pendidikan tinggi dan mapan secara finansial tersebut terbuai oleh tipu daya asmara pelaku dalam waktu yang relatif singkat.
"Korbannya paling besar itu di Medan. Rp120 miliar. Satu orang, ibu-ibu. Dia empat bulan aja kena Rp120 miliar, uang pribadi," kata Djoko kepada awak media setelah seminar Countering Scams and Frauds Through AML/CFT Measures and Anti-Scam Centre di Jakarta, Senin (6/7/2026).
Memanfaatkan Canggihnya Deepfake AI
Djoko memaparkan, jerat love scam saat ini berevolusi menjadi sangat berbahaya karena para komplotan penipu sudah mulai mengintegrasikan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Pelaku menggunakan AI untuk memanipulasi video (deepfake wajah) serta meniru identitas suara agar korban sepenuhnya percaya bahwa mereka sedang berkomunikasi dengan sosok asli.
Kecanggihan teknologi ini membuat batasan gender pelaku asli menjadi bias di dunia maya.
"Biasanya perempuan, terus ngakunya perempuan karena semua pakai AI, suara bisa mirip, muka bisa mirip. Jadi waktu dicek muka bisa pakai AI," ucap Djoko.
Baca Juga: Pemanfaatan Platform AI untuk Mitigasi Bencana di Asia Tenggara
Strategi yang digunakan para pelaku umumnya dilakukan secara terstruktur dengan durasi yang bertahap:
- Membangun Simpati: Pelaku mendekati korban di media sosial atau aplikasi perpesanan untuk memantik rasa iba atau ketertarikan emosional.
- Hubungan Intim Digital: Setelah kepercayaan terbangun, pelaku meningkatkan status hubungan menjadi seolah-olah berpacaran secara virtual.
- Penawaran Investasi Bodong: Begitu benteng emosional korban runtuh, pelaku mulai melancarkan aksi utamanya dengan mempromosikan produk investasi digital palsu atau meminta transfer dana secara berkala.
Kecepatan Melapor Jadi Kunci Penyelamatan Dana
Salah satu kendala terbesar dalam penanganan kasus love scam adalah efek psikologis denial (penolakan) dari korban. Karena telanjur menaruh harapan asmara, korban biasanya tidak sadar sedang diperas pada pengiriman uang pertama hingga ketiga. Mereka baru tersadar menjadi korban penipuan setelah nominal uang yang dikuras sudah terlampau besar.
Keterlambatan sadar ini berujung pada lambatnya pelaporan kepada otoritas hukum, sehingga memperkecil peluang scam center untuk membekukan rekening penampung dan melacak pelarian aset pelaku.
"Waktu ngirim pertama belum merasa tertipu, kedua belum, nanti waktu keempat misalnya baru sadar ketipu. Padahal, kecepatan laporan itu menentukan kecepatan tindakan dari scam center," jelas Djoko.
Berdasarkan data akumulatif yang dikantongi Satgas PASTI OJK, total kerugian masyarakat Indonesia akibat terjebak berbagai varian skema penipuan telah menyentuh angka fantastis, yakni berkisar Rp9,3 triliun sepanjang periode tahun 2022 hingga Mei 2026.
OJK mengimbau masyarakat untuk tidak mudah memercayai ajakan investasi dari kenalan baru di dunia maya, sekalipun sosok tersebut terlihat meyakinkan secara visual dan suara.
Berita Terkait
-
Marketeers Tech for Business: Brand Hari ini Harus AI Friendly
-
Realita Validasi Digital: Mengapa Gen Z Semakin Sulit Lepas dari Layar?
-
Telkomsel Dorong UKM Go Global dengan AI, DCE Academy 2026 Cetak Wirausaha Digital Baru
-
AI for Life, Menandai Kemajuan Pendidikan dan Inovasi Indonesia di Era Kecerdasan Artifisial
-
Verena Siow Nahkodai SAP Asia Pacific, Bidik Pertumbuhan Bisnis AI dan Cloud
Terpopuler
- 30 Wakil Menteri Rangkap Jabatan Jadi Komisaris BUMN, Ini Daftar Namanya
- Petinggi FPI Novel Bamukmin Ditunjuk Jadi Komisaris Hotel Indonesia Natour
- 'Daripada Liburan Mending Melawan', Ibu-ibu di Jogja Geruduk Bundaran UGM Gugat Kebijakan Korup
- Kacamata Cat Eye Cocok untuk Bentuk Wajah Apa? Ini 3 Pilihan dengan Harga Ramah di Kantong
- 5 Sepatu Running Asics Diskon di Sports Station, Potongan Harga hingga 64 Persen
Pilihan
-
Mengapa Kursi Komisaris Layak Untuk Sang Loyalis?
-
Cristiano Ronaldo Umumkan Perpisahan! Piala Dunia 2026 Jadi Panggung Terakhir
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
Terkini
-
Mengapa Kursi Komisaris Layak Untuk Sang Loyalis?
-
Marketeers Tech for Business: Brand Hari ini Harus AI Friendly
-
Pengguna SeaBank Tembus 30 Juta, Perputaran Uang Capai Rp 6 T per Hari
-
Investor Asing Serok BBCA, Tapi Jual Besar-Besaran BUMI di Sesi I
-
Mantri BRI Tembus Pulau Terpencil, Eka Layani Nasabah Hingga Kabupaten Banggai Kepulauan
-
Viral Warga Aceh Iuran Swadaya Perbaiki Jalan Rusak, Ke Mana Anggaran Ratusan Miliar?
-
IHSG Masih Kuat Bertahan di Level 5.864 pada Sesi I, BBCA Melesat
-
Menkeu Purbaya Resmi Tetapkan Daftar Batubara yang Dibatasi Ekspornya
-
Deretan Orang Dekat Raffi Ahmad Duduki Kursi Direksi dan Komisaris BUMN, Ini Daftar Jabatannya
-
BRI dan Danantara Perkuat Sinergi, Kinerja Solid Dukung Program Strategis Nasional