Bisnis / Keuangan
Kamis, 23 Juli 2026 | 18:02 WIB
Pos Indonesia. (ist)
Baca 10 detik
  • Manajemen PT Pos Indonesia melaporkan penyesuaian pembukuan keuangan senilai Rp9 triliun untuk periode 2023 hingga 2025.
  • Kepala BP BUMN Dony Oskaria bertemu Dirut PT Pos Indonesia Iskandar Kunaefi di Jakarta pada Rabu, 22 Juli.
  • Pertemuan tersebut membahas percepatan transformasi tata kelola, perbaikan keuangan, serta penyusunan model bisnis yang berkelanjutan.

Suara.com - Manajemen PT Pos Indonesia (Persero) mulai menemukan kejanggalan pada laporan keuangannya. Dalam hasil auditnya manajemen baru melaporkan penyesuaian pembukuan untuk periode 2023, 2024, dan 2025 senilai Rp9 triliun sebagai bagian dari proses pembersihan dan pemulihan catatan keuangan perusahaan.

Pembenahan tersebut menjadi salah satu agenda yang terus dikawal oleh Badan Pengelola Badan Usaha Milik Negara (BP BUMN) bersama Danantara sebagai upaya memperkuat fundamental perusahaan pelat merah tersebut.

Untuk mengawal proses transformasi, Kepala BP BUMN sekaligus Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, menggelar pertemuan dengan Direktur Utama PT Pos Indonesia yang baru, Iskandar Kunaefi, pada Rabu (22/7).

COO Danantara Sekaligus Kepala BP BUMN, Dony Oskaria [Suara.com/Achmad Fauzi].

Dalam pertemuan tersebut, keduanya membahas berbagai langkah strategis untuk mempercepat transformasi PT Pos Indonesia, mulai dari pembenahan tata kelola, perbaikan kondisi keuangan, hingga penyusunan model bisnis yang lebih sehat dan berkelanjutan.

Dony menegaskan proses transformasi tidak boleh dilakukan secara parsial atau hanya sebatas memperbaiki tampilan perusahaan. Menurutnya, pembenahan harus menyentuh akar persoalan agar Pos Indonesia memiliki fondasi bisnis yang lebih kuat.

"Transformasi yang kita lakukan di sini bukan transformasi yang setengah-setengah. Kita tidak ingin sesuatu yang artifisial atau dipoles-poles. Proses ini kita lakukan untuk menjadikan perusahaan-perusahaan BUMN tangguh ke depannya," ujar Dony di Jakarta, Kamis (23/7/2026).

Selain membenahi tata kelola, Danantara juga menaruh perhatian pada strategi penataan keuangan agar lebih efektif dan efisien. Salah satu fokusnya adalah mengurangi beban biaya perusahaan melalui evaluasi menyeluruh terhadap struktur pendapatan, komponen biaya, serta penerapan model bisnis yang lebih tepat.

BP BUMN juga mendorong pelibatan skema intercompany sebagai salah satu upaya mempercepat penurunan utang perusahaan sehingga kondisi keuangan Pos Indonesia dapat pulih secara bertahap.

Menurut Dony, setiap program transformasi harus memiliki target yang jelas dan dapat diukur sehingga proses perbaikannya bisa dikawal secara konsisten.

Baca Juga: Sebagian Himbara Tak Lagi Miliki Bisnis Manajer Investasi, Sahamnya Dipegang Danantara

"Kalau bisnis intinya masih negatif terus, enggak ada gunanya. Fokus dulu membuat ini positif dan menurunkan cost. Jadi setiap inisiatif harus jelas targetnya, kapan selesainya, dan berapa hasilnya. Kita hanya akan mengontrol berdasarkan itu," tegas Dony.

Load More