Bisnis / Keuangan
Selasa, 28 Juli 2026 | 08:01 WIB
Ilustrasi pembayaran digital. [Ist]
Baca 10 detik
  • PT Cashlez Worldwide Indonesia Tbk merampungkan penawaran umum terbatas senilai Rp237,2 miliar pada 20 Juli 2026.
  • Dana hasil aksi korporasi tersebut digunakan untuk melunasi utang serta modal kerja operasional perusahaan.
  • Dukungan pemegang saham utama memperkuat struktur permodalan dan ekspansi bisnis pembayaran digital bagi UMKM.

Suara.com - PT Cashlez Worldwide Indonesia Tbk (CASH) telah menyelesaikan Penawaran Umum Terbatas I (PUT I). Hal ini melalui skema Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) dengan nilai sekitar Rp237,2 miliar.

Perseroan menyatakan aksi korporasi tersebut menjadi bagian dari strategi memperkuat struktur permodalan sekaligus mendukung pengembangan bisnis pembayaran digital di tengah pertumbuhan industri QRIS di Indonesia.

Manajemen menilai kolaborasi lintas sektor menjadi salah satu faktor penting dalam mempercepat penetrasi layanan pembayaran digital, khususnya di segmen UMKM, sekaligus memperkuat posisi Perseroan sebagai penyedia ekosistem pembayaran.

"Right issue ini kami posisikan sebagai langkah lanjutan untuk memperkuat struktur permodalan agar dapat mendukung arah bisnis di masa depan," ujar manajemen cashUP dalam siaran pers, Selasa (28/7/2026).

Ditambahkannya, penguatan modal ini turut membuka peluang lebih besar bagi Perseroan untuk memperluas kolaborasi dengan mitra strategis, guna membangun ekosistem pembayaran yang lebih komprehensif.

Periode perdagangan dan pelaksanaan HMETD telah berakhir pada 20 Juli 2026. Manajemen menyebut rights issue ini merupakan bagian dari komitmen Perseroan dalam memperkuat identitas perusahaan, struktur keuangan, serta pengembangan bisnis jangka panjang.

Cashlez Worldwide Indonesia (CASH). [Cashup]

Sekitar 45,44 persen dari dana hasil rights issue akan digunakan untuk melunasi sebagian pokok dan bunga utang Perseroan kepada PT Bara Alam Utama.

Sementara itu, sisa dana dialokasikan untuk modal kerja operasional dan belanja modal, termasuk pengembangan produk cashSoftPOS serta perluasan basis merchant.

Perseroan juga memperluas kerja sama dengan berbagai institusi keuangan, mitra teknologi, dan mitra penyedia pengadaan guna membuka akses pembiayaan usaha bagi merchant, yang mayoritas merupakan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Baca Juga: Cari Dana Segar Buat Produksi Film dan Ekspansi, Emiten RAAM Mau Siapkan Rights Issue

Langkah penguatan modal tersebut dilakukan di tengah prospek industri pembayaran digital yang terus berkembang. Bank Indonesia menargetkan 60 juta masyarakat Indonesia menjadi pengguna aktif QRIS pada 2026.

Momentum tersebut tercermin pada kinerja operasional cashUP. Volume transaksi Perseroan meningkat dari 1,5 juta transaksi pada 2024 menjadi 2,1 juta transaksi pada 2025, atau tumbuh 41,6 persen secara tahunan.

Di sisi lain, nilai transaksi juga melonjak dari Rp0,9 triliun menjadi Rp1,6 triliun sepanjang 2025, atau meningkat 77,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Perseroan menilai tren QRIS Tap dan pembayaran berbasis Near Field Communication (NFC) yang mulai diterapkan di transportasi publik, area parkir, hingga sektor ritel turut membuka peluang bagi pengembangan cashSoftPOS, solusi pembayaran berbasis teknologi tap-to-phone yang dikembangkan perusahaan.

Berdasarkan hasil pelaksanaan HMETD, sebanyak 246.819.118 saham yang tidak diambil oleh pemegang saham lain diserap oleh dua pemegang saham utama Perseroan, yakni Andri Wijono Sutiono dan Hasim Sutiono selaku pembeli siaga, dengan nilai realisasi sekitar Rp58,74 miliar.

Langkah tersebut mencerminkan dukungan pemegang saham terhadap strategi Perseroan dalam memperkuat fundamental keuangan sekaligus mempercepat ekspansi bisnis pembayaran digital.

Load More