Bisnis / Keuangan
Rabu, 29 Juli 2026 | 18:51 WIB
Ilustrasi. PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (BJBR) berhasil mencatatkan kinerja solid sepanjang Semester I 2026. Foto ist.
Baca 10 detik
  • Laba bersih bank bjb naik 58,8% menjadi Rp783 miliar.
  • Kredit konsolidasi mencapai Rp140,4 triliun, NPL hanya 0,56%.
  • DPK Rp160,9 triliun, digital buka 12.000 rekening per bulan.

Suara.com - PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (BJBR) berhasil mencatatkan kinerja solid sepanjang Semester I 2026. Di tengah ketatnya persaingan industri perbankan dan dinamika ekonomi nasional, bank bjb membukukan pertumbuhan laba bersih hampir 60 persen dengan tetap menjaga kualitas aset dan likuiditas.

Dalam Public Expose 2026 yang digelar di Menara bank bjb, Bandung, Rabu (29/7), perseroan melaporkan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp783 miliar, melonjak 58,8 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).

Lonjakan laba tersebut ditopang strategi growth with quality yang berfokus pada rekomposisi aset dan liabilitas, efisiensi operasional, optimalisasi biaya dana, hingga peningkatan pendapatan berbasis komisi (fee based income).

Secara konsolidasi, total aset bank bjb mencapai Rp228,2 triliun hingga akhir Juni 2026. Dari jumlah tersebut, perusahaan anak menyumbang aset sebesar Rp44,2 triliun atau sekitar 19,4 persen terhadap total aset Grup bjb.

Di sisi intermediasi, penyaluran kredit dan pembiayaan tumbuh hingga Rp140,4 triliun, dengan kontribusi bank induk sebesar Rp111,1 triliun dan perusahaan anak Rp29,3 triliun.

Segmen konsumer masih menjadi tulang punggung bisnis bank bjb. Outstanding kredit konsumer mencapai Rp74,2 triliun atau sekitar 66,8 persen dari total portofolio kredit. Perseroan juga mampu menjaga kualitas pembiayaan dengan rasio Non-Performing Loan (NPL) yang sangat rendah, yakni 0,56 persen.

Selain mempertahankan dominasi kredit konsumer, bank bjb mulai memperluas mesin pertumbuhan melalui pembiayaan non-konsumer, khususnya kepada pemerintah daerah. Perseroan melihat kebutuhan pembiayaan daerah masih akan meningkat seiring berlanjutnya pembangunan infrastruktur dan peningkatan layanan publik.

Untuk mendukung strategi tersebut, bank bjb terus menyempurnakan proses penyaluran kredit melalui implementasi Commercial Business Centre (CBC) yang diharapkan mampu mempercepat proses bisnis sekaligus memperkuat tata kelola dan kualitas pembiayaan.

Dari sisi pendanaan, bank bjb juga berhasil menjaga likuiditas. Dana Pihak Ketiga (DPK) secara konsolidasi mencapai Rp160,9 triliun hingga Semester I 2026.

Baca Juga: Bank Jor-joran Salurkan Kredit Hijau, Tapi Ancaman Greenwashing Mengintai

Perseroan terus memperkuat komposisi dana murah (CASA) melalui perluasan kerja sama payroll, peningkatan transaksi nasabah, serta pengembangan layanan digital.

Transformasi digital pun mulai memberikan hasil nyata. Melalui aplikasi DIGI bank bjb, pembukaan rekening secara digital kini mencapai sekitar 12.000 rekening baru setiap bulan, yang diharapkan mampu memperluas basis nasabah sekaligus meningkatkan penghimpunan dana murah secara berkelanjutan.

Di sisi pendapatan, bank bjb mencatat pendapatan bunga bersih tumbuh lebih dari 9,1 persen yoy. Sementara itu, fee based income menyumbang Rp1,1 triliun, memperkuat struktur pendapatan di luar bunga.

Efisiensi operasional juga menjadi salah satu motor utama peningkatan kinerja. Beban operasional berhasil ditekan sekitar 5,4 persen, sehingga laba operasional sebelum Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) melonjak lebih dari 34,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Kinerja Semester I 2026 tersebut menunjukkan strategi bank bjb dalam menjaga keseimbangan antara pertumbuhan kredit, kualitas aset, efisiensi operasional, serta transformasi digital mulai memberikan hasil positif di tengah tantangan industri perbankan yang semakin kompetitif.

Load More