Bisnis / Energi
Rabu, 29 Juli 2026 | 18:56 WIB
PSEL Legok Nangka di Bandung, Jawa Barat mulai dibangun pada Rabu (29/7/2026). [Dok Kementerian ESDM]
Baca 10 detik
  • Wamen ESDM Yuliot Tanjung meresmikan pembangunan fasilitas PSEL Legok Nangka di Kabupaten Bandung pada Rabu, 29 Juli 2026.
  • Fasilitas bernilai investasi Rp7,2 triliun ini dirancang mengolah 2.131 ton sampah per hari menjadi listrik berkapasitas 40,79 megawatt.
  • Proyek berdurasi konstruksi 41 bulan ini menyerap 1.565 tenaga kerja serta mengurangi emisi hingga 311.874 ton CO2.

Suara.com - Pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik atau PSEL Legok Nangka di Kabupaten Bandung, Jawa Barat resmi dimulai melalui prosesi groundbreaking, Rabu (29/7/2026). 

Adapun PSEL tersebut dirancang mengolah 2.131 ton sampah per hari dari enam kabupaten dan kota di Jawa Barat menjadi listrik berkapasitas 40,79 megawatt.

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot Tanjung pengelolaan sampah perkotaan secara menyeluruh merupakan instruksi Presiden Prabowo Subianto.

"Groundbreaking hari ini bukan sekadar menandai dimulainya pembangunan sebuah infrastruktur, tetapi juga menjadi simbol komitmen bersama untuk mewujudkan masa depan Indonesia yang lebih bersih, lebih hijau, dan berkelanjutan," kata Yuliot lewat keterangannya pada Rabu (29/7/2026). 

Yuliot berharap PSEL Legok Nangka dapat menjadi percontohan proyek pengolahan sampah menjadi energi  atau waste-to-energy untuk daerah lain. Ia menambahkan bahwa dengan kapasitas pembangkit yang besar serta dukungan investasi, proyek tersebut diharapkan memberi manfaat yang nyata. 

"Seperti pengurangan volume sampah, penyediaan energi bersih, penciptaan lapangan kerja, peningkatan aktivitas ekonomi daerah, pengurangan emisi serta perbaikan kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat," katanya.  

Adapun, proyek waste-to-energy memiliki nilai  investasi sebesar USD 400 juta atau sekitar Rp7,2 triliun. Proyek tersebut  membutuhkan masa konstruksi selama 41 bulan. Selama pengerjaannya, proyek ini diperkirakan menyerap 1.565 tenaga kerja serta berpotensi mengurangi emisi gas rumah kaca hingga 311.874 ton CO2 ekuivalen.

Load More