Bisnis / Energi
Rabu, 29 Juli 2026 | 19:25 WIB
Pengemudi mengisi bahan bakar Biosolar B50 di Rest Area KM 57 Tol Jakarta-Cikampek, Karawang, Jawa Barat, Kamis (9/7/2026). [ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/bay/kye]
Baca 10 detik
  • PT Bumi Etam Chemical menandatangani kontrak proyek metanol di Jakarta pada Rabu, 29 Juli 2026.
  • Fasilitas produksi metanol berbasis batu bara di Kutai Timur tersebut menargetkan uji coba mulai tahun 2029.
  • Proyek strategis nasional ini bertujuan memenuhi kebutuhan domestik, mensubstitusi impor, dan mendukung program mandatori biodiesel.

Suara.com - PT Bumi Etam Chemical (BEC) menargetkan fasilitas produksi metanol berbasis batu bara atau Coal to Methanol  di Kutai Timur, Kalimantan Timur, dapat mulai  commissioning pada tahun 2029. Proyek Strategis Nasional (PSN) ini disiapkan untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri sekaligus mengurangi ketergantungan impor.

Proyek tersebut kini akan mulai dieksekusi dengan ditandatanganinya  kontrak Front-End Engineering Design (FEED) dan Engineering, Procurement, Construction, and Commissioning (EPCC) Framework Agreement bersama PT Istana Karang Laut (IKL) dan China National Chemical Engineering Co., Ltd. (CNCEC) di Jakarta, Rabu (29/7/2026).

Presiden Direktur BEC Rio Supin menjelaskan, target utama penyerapan produk metanol hasil gasifikasi batu bara tersebut adalah pasar domestik, khususnya program mandatori biodiesel 50 persen (B50)  yang membutuhkan metanol sebagai bahan baku produksi Fatty Acid Methyl Ester (FAME).

"Dengan B50 pasti nanti kebutuhan metanol akan naik lagi.  Jadi target utama kita memang dari awal adalah mensubstitusi impor. Jadi siapa sekarang pengguna metanol dalam negeri, pasti akan butuh metanol ini. Jadi target utamanya adalah para domestik market," kata Rio usai prosesi penadatanganan. 

Hilirasi bau bara menjadi metanol dimulai. [Antara]

Selain untuk sektor biodiesel, metanol juga merupakan bahan kimia dasar yang digunakan pada berbagai industri turunan, seperti bahan baku plastik (Polyethylene dan Polypropylene), serat sintetis, hingga tekstil.

Rio menyebutkan, saat ini sejumlah perusahaan telah menandatangani letter of intent (LoI) atau berminat untuk menyerap produk metanol BEC. Kepastian kontra off-take agreement akan difinalisasi seiring berjalannya kemajuan proyek.

"Jadi LOI dulu yang beberapa perusahaan yang bilang dia berminat akan off-take. Tapi mereka jelas menunggu dahulu perkembangan proyek ini," jelasnya.  

Mengenai progres di lapangan, pekerjaan pematangan lahan di Kutai Timur saat ini telah mencapai sekitar 60 hingga 70 persen. Setelah penandatanganan kontrak Front-End Engineering Design (FEED) dan penyelesaian Process Design Package (PDP), perusahaan akan segera melakukan pemesanan peralatan pabrik berdurasi pengadaan panjang (long-lead items).

"Setelah ini yang paling harus cepat dilakukan adalah kita harus order yang long-lead item.  Misalnya ada yang equipment, itu baru tersedia. Ada yang cepat 6 bulan. Ada yang sampai 12 bulan, ada yang 18 bulan," pungkas Rio. 

Baca Juga: Hilirasi Batu Bara jadi Metanol Dimulai, Grup Bakrie Pegang Proyeknya

Load More