Bisnis / Inspiratif
Jum'at, 31 Juli 2026 | 07:47 WIB
Ilustrasi seseorang mengalami obesitas (Pexels/Andres Ayrton)
Baca 10 detik
  • Dokter Riyanny Meisha Tarliman menyatakan bahwa satu dari empat orang dewasa di Indonesia mengalami obesitas dengan kerugian ekonomi mencapai lebih dari Rp 78 triliun per tahun.
  • Perempuan memiliki risiko obesitas lebih tinggi sebesar 36,4 persen yang dapat memengaruhi kesehatan reproduksi serta memicu gangguan seperti PMOS.
  • Novo Nordisk Indonesia meluncurkan situs edukasi NovoCare.id untuk membantu masyarakat mendapatkan informasi medis akurat dan menemukan dokter yang tepat dalam penanganan obesitas.

Suara.com - Kasus obesitas Indonesia dianggap bisa berdampak ke perekonomian. Jika kenaikan ini tidak diantisipasi, dampaknya bisa mencapai puluhan triliun rupiah.

Associate Director Medical and Regulatory Novo Nordisk Indonesia, dr. Riyanny Meisha Tarliman, mengatakan saat ini satu dari empat orang dewasa di Indonesia hidup dengan obesitas. 

"Dari data yang berbeda, kita juga bisa melihat seberapa besar dampaknya terhadap ekonomi. Ada penilaian yang mengatakan dampaknya terhadap ekonomi mencapai lebih dari Rp 78 triliun per tahun akibat obesitas itu sendiri," ujar Riyanny dalam siaran pers, dikutip Jumat (30/7/2026).

Di sisi lain, perempuan tercatat memiliki risiko obesitas lebih tinggi dibandingkan laki-laki dengan persentase 36,4 persen berbanding 24,4 persen.

Dokter spesialis obstetri dan ginekologi, dr. Cynthia Agnes Susanto menjelaskan, obesitas bisa memengaruhi berbagai aspek kesehatan dan menurunkan kualitas hidup. Bahkan pada perempuan, obesitas bukan hanya meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular dan diabetes tipe 2, tapi juga berisiko memengaruhi kesehatan reproduksi. 

"Mulai dari gangguan siklus menstruasi dan ovulasi, meningkatnya risiko infertilitas dan komplikasi pada kehamilan. Karena itu, obesitas perlu dipandang sebagai penyakit kronis yang membutuhkan penanganan komprehensif yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing individu, sesuai evaluasi dokter," ujar Cynthia.

Novo Nordisk.

Dia menjelaskan bahwa salah satu contoh keterkaitan obesitas dengan kesehatan reproduksi adalah Polyendocrine Metabolic Ovarian Syndrome (PMOS), yang sebelumnya dikenal sebagai Polycystic Ovary Syndrome (PCOS). 

Perubahan nomenklatur ini mencerminkan pemahaman ilmiah bahwa kondisi tersebut bukan hanya berkaitan dengan ovarium, tetapi merupakan gangguan endokrin dan metabolik yang kompleks. 

PMOS merupakan penyebab tersering gangguan ovulasi, dan sekitar 35-50 persen perempuan dengan kondisi ini juga mengalami obesitas, yang dapat memperburuk gejala serta meningkatkan risiko komplikasi reproduksi maupun metabolik. Obesitas dan PMOS pun bisa menyebabkan kondisi yang kompleks. 

Baca Juga: Antrean iPhone Tidak Bisa Menjadi Ukuran Kesejahteraan Indonesia

“Pada sebagian perempuan, obesitas bisa memperburuk gejala dan dampak metabolik PMOS. Sementara perubahan hormonal dan metabolik yang berkaitan dengan PMOS juga bisa membuat pengelolaan berat badan menjadi lebih menantang,” tambah dr. Cynthia. 

Untuk itu obesitas perlu mendapat perhatian yang serius. Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan, pendekatan pengelolaan obesitas juga terus berkembang. 

Penanganan obesitas kini dilakukan melalui pendekatan multidisiplin yang disesuaikan dengan kebutuhan setiap individu, mencakup perubahan gaya hidup, dukungan psikologis, terapi farmakologis sesuai indikasi medis, hingga tindakan bedah bariatrik pada pasien tertentu.

Dalam pendekatan ini, perubahan gaya hidup dan terapi medis dipandang sebagai bagian yang saling melengkapi untuk membantu pasien mencapai pengelolaan berat badan yang berkelanjutan.

Salah satu perkembangan dalam tata laksana obesitas adalah hadirnya terapi GLP-1 receptor agonist (GLP-1 RA) yang bekerja pada mekanisme biologis pengatur rasa lapar dan kenyang di otak. 

Sesuai evaluasi dokter dan indikasi medis, terapi ini dapat menjadi salah satu pilihan untuk membantu pengelolaan berat badan, sebagai pelengkap perubahan gaya hidup. 

Load More