Bisnis / Makro
Jum'at, 31 Juli 2026 | 07:28 WIB
Pekerja berjalan di dekat layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis (21/5/2026). [ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/wsj]
Baca 10 detik
  • Indeks Wall Street melesat pada Kamis (30/7) akibat reli sektor teknologi, dipimpin lonjakan saham Microsoft dan semikonduktor.
  • Bursa saham Asia bergerak bervariasi pada 30 Juli 2026 karena investor mencerna kebijakan suku bunga The Fed.
  • IHSG ditutup menguat 1,56 persen dengan masuknya aliran dana asing senilai kurang lebih Rp100 miliar kemarin.

Suara.com - Pasar saham global kembali menunjukkan gairah. Indeks-indeks utama Wall Street ditutup melesat pada perdagangan Kamis (30/7), sekaligus membalikkan arah setelah mengalami aksi jual besar-besaran di hari sebelumnya akibat keputusan The Fed yang menahan suku bunga acuan.

Lonjakan ini didominasi oleh reli saham-saham sektor teknologi, yang sukses membawa indeks Nasdaq mengakhiri tren penurunan panjangnya.

Nasdaq Composite melonjak 2,8% (mengakhiri tren penurunan enam hari beruntun).

S&P 500 menguat 1,7%.

Dow Jones Industrial Average melesat 1,19%.

Saham Microsoft menjadi motor penggerak utama dengan meroket sekitar 16%. Apresiasi pasar ini merespons laporan pertumbuhan bisnis komputasi awan (cloud) Azure yang sukses melampaui ekspektasi analis.

Sektor semikonduktor turut berpesta. ETF iShares Semiconductor melompat lebih dari 8%, didorong oleh meroketnya saham Micron Technology sebesar 18% dan Advanced Micro Devices (AMD) yang melesat lebih dari 13%.

Di sisi lain, saham Meta Platforms justru terkoreksi 8% usai perusahaan merilis proyeksi pendapatan yang melemah serta melaporkan anjloknya arus kas bebas Kuartal II hingga 91%.

Saat ini, investor juga tengah menanti rilis laporan keuangan raksasa teknologi lainnya seperti Amazon, Apple, dan Coinbase.

Baca Juga: IHSG Tahan Badai Menguat 1,55% Hari Ini, BBCA Pendorongnya

Berbeda dengan Wall Street yang melaju kencang, bursa saham Asia bergerak lebih bervariasi (mixed) pada perdagangan Kamis (30/7/2026).

Di Jepang, Indeks Nikkei 225 menguat 0,7%, berbanding terbalik dengan Topix yang turun 0,5%. Di Tiongkok dan sekitarnya, Hang Seng Hong Kong naik 0,2%, sementara Taiex Taiwan turun 0,3% dan CSI 300 Tiongkok melemah 1,1%.

Penurunan tajam terjadi di bursa Korea Selatan, di mana Kospi melemah 1,2% dan Kosdaq anjlok 2,7%. Pelemahan ini terjadi pasca pemerintah setempat meningkatkan pembatasan stimulus pada ETF leverage. Untuk bursa lainnya, ASX 200 Australia turun 0,8%, Straits Times Singapura melemah 0,7%, sedangkan FTSE Malaysia naik 0,3%.

Pelaku pasar di Asia masih mencerna sikap The Fed. Gubernur The Fed, Kevin Warsh, menegaskan bahwa penahanan suku bunga bukanlah tanda keterlambatan langkah bank sentral, dan pasar bebas menentukan arah berdasarkan sinyal ekonomi.

Sikap komite yang terbelah—tiga dari 12 pejabat menolak penahanan suku bunga karena khawatir pada inflasi—serta minimnya panduan kebijakan, membuat investor di bursa Asia kekurangan kejelasan arah.

Dari dalam negeri, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan performa yang solid. Pada perdagangan kemarin, IHSG ditutup menguat 1,56% yang dibarengi dengan masuknya aliran dana asing (net buy) senilai kurang lebih Rp100 miliar.

Lima saham yang menjadi buruan utama investor asing meliputi BBCA, TINS, TLKM, INCO, dan BBNI.

Berdasarkan analisis teknikal dari Head of Retail Research Analyst BNI Sekuritas, Fanny Suherman, IHSG saat ini memiliki momentum untuk melanjutkan kenaikan dan menguji level resisten kuat. Namun, investor tetap diimbau untuk mewaspadai potensi pembalikan arah.

Peluang IHSG: Berpeluang naik menguji resisten 6.200–6.300.
Peringatan: Hati-hati jika indeks tidak cukup kuat untuk break di atas 6.300, karena ada potensi koreksi kembali.
Area Support: 6.050–6.130
Area Resisten: 6.200–6.300

Load More