Bisnis / Makro
Senin, 03 Agustus 2026 | 14:49 WIB
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan deflasi pada bulan Juli 2026 bukan karena MBG libur. Foto Fakhri-Suara.com
Baca 10 detik
  • BPS belum bisa buktikan MBG memicu deflasi Juli 2026.
  • Deflasi lebih dipicu panen raya dan stok pangan melimpah.
  • Beras, bawang putih, dan mentimun justru masih mengalami inflasi.

Suara.com - Badan Pusat Statistik (BPS) belum bisa memastikan apakah penghentian sementara Program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama masa libur sekolah ikut menjadi penyebab deflasi yang terjadi pada Juli 2026. Ketidakpastian ini memunculkan tanda tanya terhadap efektivitas program unggulan pemerintah dalam memengaruhi pergerakan harga pangan nasional.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengakui hingga kini pihaknya belum memiliki kajian yang dapat membuktikan ada atau tidaknya pengaruh penghentian sementara MBG terhadap inflasi maupun deflasi.

"Untuk mengetahui bahwa periode tahun ajaran baru dan dimulainya kembali pelaksanaan program MBG pada bulan Juli tahun 2026 apakah berdampak atau mempunyai pengaruh atau tidak terhadap inflasi, maka ini tentunya memerlukan kajian secara khusus," ujar Ateng dalam konferensi pers di Kantor BPS, Jakarta, Senin (3/8/2026).

Belum adanya kajian tersebut membuat hubungan antara berhentinya sementara program MBG dan penurunan harga pangan masih sebatas dugaan. Padahal, pada Juli 2026 Indonesia justru mengalami deflasi sebesar 0,14% secara bulanan (month-to-month).

BPS menegaskan penurunan harga pangan lebih banyak dipicu oleh melimpahnya pasokan akibat musim panen di sejumlah sentra produksi. Kondisi itu menyebabkan harga bawang merah, cabai merah, dan cabai rawit terkoreksi tajam sehingga menjadi pendorong utama deflasi.

"Informasi yang dapat kami himpun bahwa di bulan ini bawang merah, cabai merah, dan cabai rawit sedang mengalami panen di beberapa sentra sehingga stoknya berlimpah. Ketika ada suplai yang relatif banyak, kemudian demand-nya masih stabil, maka otomatis akan terjadi deflasi," kata Ateng.

Data BPS menunjukkan kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar deflasi dengan andil 0,26%. Bawang merah menjadi komoditas dengan kontribusi deflasi terbesar sebesar 0,11%, disusul cabai merah dan cabai rawit yang masing-masing menyumbang 0,06%. Sementara itu, telur ayam ras dan tomat masing-masing memberi andil deflasi sebesar 0,03%.

Di sisi lain, tidak semua bahan pangan mengalami penurunan harga. BPS mencatat beras masih mengalami inflasi sebesar 0,49% dengan andil 0,02%. Selain itu, harga bawang putih naik 3,33% dan mentimun melonjak hingga 17,44%, masing-masing memberikan andil inflasi sebesar 0,01%.

Kondisi tersebut menunjukkan tekanan harga pangan pada Juli lebih dipengaruhi dinamika pasokan dibandingkan faktor permintaan. Sementara itu, pengaruh MBG terhadap inflasi maupun deflasi masih menjadi pekerjaan rumah yang belum mampu dijawab oleh otoritas statistik melalui kajian empiris.

Baca Juga: Minat Asing pada Kopi dan Buah-buahan Turun, Ekspor Pertanian Jadi Susut

Load More