Direktur Bus ALS Jadi Tersangka Buntut Kecelakaan Musi Rawas, Ini Sosoknya

Kamis, 06 Agustus 2026 | 18:59 WIB
Sejarah bus ALS, PO Legendaris
  • PT Antar Lintas Sumatra didirikan pada 29 September 1966 di Kotanopan oleh Haji Sati Lubis bersama tujuh saudagar.
  • Kepemimpinan perusahaan otobus legendaris tersebut kini telah diteruskan kepada generasi kedua dari keluarga para pendiri.
  • Setiap armada bus memiliki sistem kepemilikan keluarga berbeda yang diidentifikasi melalui angka terakhir pada nomor pintu.

Suara.com - Penetapan Direktur PT Antar Lintas Sumatra (ALS), Chandra Lubis, sebagai tersangka dalam kecelakaan maut di Musi Rawas Utara baru-baru ini, membuat publik kembali menyoroti latar belakang perusahaan otobus legendaris asal Sumatra Utara tersebut.

Sebagai salah satu perusahaan transportasi tertua di Indonesia yang berjuluk "Si Raja Jalanan", lantas siapa sebenarnya pemilik di balik armada bus ALS?

Sejarah Pendirian dan Pelopor Perusahaan PT ALS tidak dimiliki oleh satu individu tunggal, melainkan didirikan melalui sistem patungan atau kongsi keluarga.

Perusahaan yang resmi berdiri pada 29 September 1966 di Kotanopan, Mandailing Natal, ini dipelopori oleh Haji Sati Lubis bersama tujuh orang saudagar bersaudara lainnya.

Pada mulanya, kongsi keluarga ini bergerak di bidang perdagangan hasil bumi menggunakan armada truk angkut barang, sebelum akhirnya berekspansi mengubah armada tersebut (awalnya hanya 2 unit bus Chevrolet C-50) menjadi transportasi penumpang angkutan antarkota dan antarprovinsi.

Dikelola oleh Generasi Kedua Saat ini, tampuk kepemimpinan PT ALS telah diteruskan kepada generasi kedua dari keluarga pendiri. Chandra Lubis, yang saat ini menjabat sebagai Direktur (dan tengah menghadapi proses hukum terkait kecelakaan di Musi Rawas Utara), merupakan anak dari almarhum Haji Sati Lubis.

Selain Chandra, tokoh generasi kedua lainnya yang turut mengelola perusahaan adalah Efrizal Nursewan (Ical), yang meneruskan amanah operasional perusahaan setelah orang tuanya wafat.

Sistem Kepemilikan Armada yang Unik Ciri khas utama yang membedakan ALS dengan perusahaan otobus lainnya adalah sistem kepemilikan armadanya. Karena berstatus perusahaan keluarga gabungan, setiap unit bus yang beroperasi sebenarnya dimiliki oleh keluarga pendiri yang berbeda-beda.

Untuk membedakan hak milik armada antarkeluarga, ALS menggunakan sistem identifikasi unik berupa angka terakhir pada nomor pintu bus. Berikut adalah rincian kode kepemilikan armada ALS:

Akhiran Angka 1: Menandakan armada milik keluarga almarhum Haji Sati Lubis (keluarga Direktur Utama saat ini).
Akhiran Angka 3: Menandakan armada milik keluarga almarhum Haji Rasyad Nasution.
Akhiran Angka 5: Menandakan armada milik keluarga Japarkayo Hasibuan.
Akhiran Angka 7: Menandakan armada milik keluarga almarhum Haji M. Arief Lubis.
Akhiran Angka 8: Menandakan armada milik keluarga almarhum Haji Abdul Wahab Lubis dan Haji Hasbullah Lubis.
Akhiran Angka 9 dan 0: Menandakan armada milik keluarga almarhum Nursewan Lubis dan almarhum Rangkuti.

Nomor Acak: Beberapa armada dengan nomor di luar pola tetap dimiliki oleh keluarga almarhum Haji Hamzah Nasution dan almarhum M. Nasir Daulay.

Sistem kepemilikan dan pengelolaan armada secara desentralisasi berbasis kekeluargaan inilah yang menjadi kunci bertahannya eksistensi PT ALS merajai jalanan Sumatra hingga Pulau Jawa selama lebih dari lima dekade.

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com