- PLTA Garung berkapasitas 26,4 MW di Wonosobo memperkuat pasokan energi bersih nasional untuk sistem Jawa-Bali.
- Pembangkit ramah lingkungan ini mendukung target transisi energi menuju Net Zero Emission 2060 bagi Indonesia.
- PLN Indonesia Power UBP Mrica memberdayakan penyandang disabilitas melalui pendampingan usaha Batik Shanding di Wonosobo.
Suara.com - Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Garung yang dikelola PLN Indonesia Power Unit Bisnis Pembangkitan (UBP) Mrica terus memperkuat pasokan energi bersih bagi sistem kelistrikan nasional.
Berlokasi di kawasan Pegunungan Dieng, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, pembangkit berkapasitas terpasang 26,4 megawatt (MW) ini menjadi salah satu penopang keandalan sistem interkoneksi Jawa-Bali.
PLTA Garung memanfaatkan aliran air pegunungan sebagai sumber energi baru terbarukan (EBT) untuk menghasilkan listrik yang kemudian disalurkan ke jaringan interkoneksi Jawa-Bali.
Dengan dua unit turbin tipe Francis yang masing-masing memiliki kapasitas 13,2 MW, pembangkit ini mampu menghasilkan listrik yang setara untuk memenuhi kebutuhan sekitar 20 hingga 30 desa atau 4 hingga 6 kecamatan berukuran sedang di Jawa Tengah.
Meski demikian, listrik yang dihasilkan tidak hanya digunakan untuk wilayah sekitar pembangkit, melainkan didistribusikan ke sistem interkoneksi Jawa-Bali sesuai kebutuhan pasokan listrik nasional.
Selain menghasilkan listrik rendah emisi, PLTA Garung juga memiliki fleksibilitas operasional yang berperan penting dalam menjaga stabilitas pasokan listrik, terutama ketika terjadi perubahan beban pada sistem kelistrikan Jawa-Bali. Peran tersebut menjadi bagian dari upaya PLN Indonesia Power dalam mendukung target transisi energi menuju Net Zero Emission (NZE) 2060.
Direktur Utama PLN Indonesia Power Bernadus Sudarmanta mengatakan, pengembangan pembangkit energi baru terbarukan tidak hanya ditujukan untuk memperkuat sistem kelistrikan, tetapi juga memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat.
"PLTA Garung tidak hanya menghadirkan pasokan listrik yang andal dan rendah emisi, tetapi juga menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam menciptakan nilai bersama (creating shared value) melalui pemberdayaan masyarakat dan pengembangan potensi lokal di sekitar wilayah operasi," ujar Bernadus Sudarmanta seperti dikutip, Senin (10/9/2026).
Senada dengan itu, Senior Manager PLN Indonesia Power UBP Mrica Wasis Jati Waskitho menegaskan bahwa optimalisasi operasional pembangkit terus dilakukan agar mampu memberikan manfaat maksimal bagi sistem kelistrikan nasional.
"Kami terus menjaga keandalan operasional pembangkit agar manfaat energi terbarukan ini dapat dirasakan secara berkelanjutan," jelas Wasis.
Tak hanya berfokus pada penyediaan energi bersih, PLN Indonesia Power UBP Mrica juga menjalankan berbagai program pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah operasional pembangkit.
Salah satunya melalui dukungan terhadap Batik Shanding, sebuah usaha sosial sekaligus sanggar produksi batik tulis dan batik ciprat inklusif asal Wonosobo.
Usaha yang dirintis Nunung Sri Lestari tersebut menjadi ruang bagi penyandang disabilitas untuk mengembangkan keterampilan membatik sekaligus meningkatkan kemandirian ekonomi.
Melalui pendampingan berkelanjutan, para perajin difabel menghasilkan batik berkualitas yang memadukan teknik tradisional dengan ekspresi artistik, sehingga memiliki nilai ekonomi sekaligus menjadi simbol kesetaraan dan pelestarian budaya.