- UMKM RI dinilai masih lemah dalam menjaga dan memperluas pasar.
- Tambahan modal berisiko menjadi beban jika produk tak terserap pasar.
- Pemerintah mendorong UMKM RI belajar dari keberhasilan India.
Suara.com - Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Indonesia masih menghadapi persoalan serius yang tak bisa diselesaikan hanya dengan menambah modal. Pemerintah bahkan mendorong UMKM belajar dari India karena kemampuan menjaga pasar dinilai masih menjadi titik lemah yang harus dibenahi.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan India memiliki pengalaman dalam membangun UMKM yang tidak hanya mampu meningkatkan produksi, tetapi juga mempertahankan pasar. Menurutnya, kemampuan tersebut membuat UMKM tetap bergerak meski harus berdampingan dengan perusahaan besar dan konglomerasi.
"Karena India itu salah satu negara yang berhasil mendorong UMKM, tidak hanya mereka berproduksi, tetapi bagaimana mereka bisa menjaga pasar," kata Airlangga dalam acara UMKM Finance Summit di Jakarta, Selasa (11/8/2026).
Airlangga menilai kondisi tersebut menjadi pelajaran penting bagi Indonesia yang tengah mendorong UMKM naik kelas. Sebab, peningkatan kapasitas produksi tanpa kepastian pasar justru berisiko membuat pelaku usaha menghasilkan barang yang sulit dijual.
"Sehingga semua bisa tumbuh, walaupun ada yang konglomeratnya tinggi tapi yang UMKM itu bergerak, sehingga itu menjadi basis daripada perekonomian, daripada India," ujarnya.
Menurut Airlangga, UMKM Indonesia mau tidak mau perlu mempelajari pengalaman India. Penguatan usaha tidak cukup hanya dengan mendorong produksi, tetapi juga memastikan produk memiliki pasar yang mampu menopang keberlanjutan bisnis.
"Jadi, kita ingin kalau kita tumbuh, memang UMKM mau nggak mau harus belajar ke India," kata Airlangga.
Persoalan tersebut menjadi semakin penting ketika pemerintah terus mendorong peningkatan akses pembiayaan bagi UMKM. Tambahan modal memang dapat membantu pelaku usaha meningkatkan kapasitas produksi, tetapi tanpa pasar yang kuat, pembiayaan justru berpotensi berubah menjadi beban.
Menteri UMKM Maman Abdurrahman mengingatkan pemerintah agar peningkatan akses kredit tidak hanya mengejar angka penyaluran pembiayaan. Menurutnya, kemampuan UMKM menyerap pembiayaan harus diikuti dengan kepastian pasar.
"Namun memang tadi saya juga sampaikan kepada beliau-beliau bahwa ada beberapa catatan juga yang memang kita sampaikan dari Kementerian UMKM, bahwa pada saat kita ingin mendorong pertumbuhan angka akses pembiayaan ke sektor UMKM, ini juga harus diimbangi dengan mengamankan pasar," kata Maman.
Maman menegaskan, masalah pasar tidak boleh dipisahkan dari kebijakan pembiayaan. Sebab, UMKM bisa saja mendapatkan kredit dan meningkatkan produksi, tetapi tetap kesulitan membayar kewajiban jika barang yang dihasilkan tidak terserap konsumen.
"Karena jangan sampai pada saat kredit pembiayaan kita berikan kepada UMKM kita dan UMKM kita bisa memproduksi barang dengan baik, namun pada saat barangnya mau dijual ke pasar, enggak ada yang terima," pungkasnya.