Penjualan Eceran Juli 2026 Diprediksi Tumbuh 0,9 Persen, Makanan dan Minuman Jadi Penopang

Rabu, 12 Agustus 2026 | 07:20 WIB
Ilustrasi Makanan. (Pixabay)
  • Bank Indonesia memperkirakan Indeks Penjualan Riil Juli 2026 tumbuh 0,9 persen secara tahunan mencapai level 224,4.
  • Penjualan eceran Juli 2026 secara bulanan terkontraksi 0,3 persen akibat normalisasi permintaan setelah libur sekolah dan hari besar.
  • Tekanan inflasi September 2026 diprakirakan menurun menjadi level 155,2 berdasarkan Indeks Ekspektasi Harga Umum.

Suara.com - Bank Indonesia (BI) memperkirakan kinerja penjualan eceran pada Juli 2026 tetap tumbuh positif secara tahunan. Hal tersebut tercermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR) Juli 2026 yang diprakirakan tumbuh 0,9 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi level 224,4.

Direktur Eksekutif Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, mengatakan pertumbuhan penjualan eceran pada Juli 2026 lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada bulan sebelumnya. Kenaikan tersebut terutama didorong oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau.

"Secara tahunan diprakirakan meningkat. Indeks Penjualan Riil (IPR) Juli 2026 diprakirakan tumbuh sebesar 0,9 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada bulan sebelumnya sehingga mencapai level 224,4," kata Ramdan Denny dalam siaran pers yang diterima, Rabu (12/8/2026).

Selain kelompok makanan, minuman, dan tembakau, pertumbuhan penjualan eceran juga ditopang oleh kelompok suku cadang dan aksesori serta perlengkapan rumah tangga lainnya yang masih mencatat pertumbuhan positif.

Meski secara tahunan tumbuh, penjualan eceran secara bulanan pada Juli 2026 diprakirakan mengalami kontraksi sebesar 0,3 persen secara bulanan (month-to-month/mtm).

Penurunan tersebut dipengaruhi oleh normalisasi permintaan setelah periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) dan libur sekolah.

Namun, kinerja penjualan eceran Juli 2026 dinilai masih lebih baik dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada Juli 2025, penjualan eceran tercatat turun 4,1 persen secara bulanan.

"Penjualan eceran secara bulanan pada Juli 2026 diprakirakan menurun sebesar 0,3 persen (mtm), dipengaruhi oleh normalisasi permintaan pasca-periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) dan libur sekolah. Meski demikian, kinerja penjualan pada Juli 2026 tersebut lebih baik dibandingkan Juli 2025 yang turun 4,1 persen (mtm)," ujar Ramdan.

Sementara itu, BI mencatat IPR pada Juni 2026 berada di level 225,0. Kinerja tersebut ditopang oleh pertumbuhan penjualan secara tahunan pada kelompok suku cadang dan aksesori, perlengkapan rumah tangga lainnya, serta barang lainnya.

Secara bulanan, penjualan eceran pada Juni 2026 tumbuh 0,7 persen. Realisasi tersebut membaik dibandingkan dengan Mei 2026 yang mengalami kontraksi 1,5 persen secara bulanan.

Menurut Ramdan, perkembangan penjualan eceran pada Juni 2026 sejalan dengan permintaan masyarakat yang tetap terjaga selama periode HBKN dan libur sekolah.

"Pada Juni 2026, IPR tercatat sebesar 225,0. Kinerja tersebut ditopang oleh tetap tumbuhnya penjualan secara tahunan pada kelompok suku cadang dan aksesori, perlengkapan rumah tangga lainnya, dan barang lainnya," jelasnya.

Dari sisi harga, BI memperkirakan tekanan inflasi pada September 2026 akan menurun. Hal tersebut tercermin dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) September 2026 yang berada di level 155,2, lebih rendah dibandingkan dengan IEH Agustus 2026 sebesar 178,0.

"Hal ini tecermin dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) September 2026 sebesar 155,2, lebih rendah dibandingkan dengan IEH pada Agustus 2026 sebesar 178,0," kata Ramdan.

Namun, tekanan harga diprakirakan kembali meningkat pada Desember 2026. IEH Desember 2026 diperkirakan mencapai 168,1, sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan IEH November 2026 yang berada di level 167,5.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa meski penjualan eceran pada Juli 2026 diprakirakan mengalami penurunan secara bulanan akibat normalisasi permintaan, kinerja secara tahunan masih mencatat pertumbuhan positif.

Direktur Eksekutif Komunikasi BI Ramdan Denny. [Suara.com/Rina]

Kondisi ini sekaligus menunjukkan konsumsi masyarakat tetap menjadi salah satu penopang aktivitas ekonomi domestik.

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com