- PT Petrokimia Gresik mengadakan Pestani Rawit Groo Festival pada Rabu, 19 Agustus 2026 di Jawa Timur.
- Sebanyak 270 petani cabai rawit menerapkan praktik pemupukan berbasis teknologi untuk meningkatkan produktivitas pertanian.
- Penerapan metode budidaya terarah tersebut berhasil meningkatkan hasil panen cabai rawit hingga 15 persen.
Suara.com - Ratusan petani cabai rawit di Jawa Timur menerapkan praktik budidaya yang lebih terarah untuk meningkatkan hasil panen. Terbukti, metode ini meningkatkan hasil panen hingga 15 persen.
Hal ini dilakukan oleh PT Petrokimia Gresik (Persero) selaku perusahaan Solusi Agroindustri anggota holding PT Pupuk Indonesia (Persero). Lewat Pestani Rawit Groo Festival, sebanyak 270 petani dari Malang, Kediri, Mojokerto, Blitar, dan Probolinggo mengikuti program ini dengan menerapkan pemupukan dan budidaya berbasis teknologi di lahan masing-masing.
Direktur Keuangan dan Umum Petrokimia Gresik, Adityo Wibowo menjelaskan bahwa penerapan praktik budidaya tersebut menunjukkan hasil positif. Berkat demonstration plot (demplot), hasil panen mencapai 11,5 ton per hektare atau meningkat sekitar 13-15 persen dibandingkan sebelumnya yang mencapai 10 ton per hektare.
“Kami ingin mendorong petani cabai rawit di Jawa Timur untuk terus meningkatkan hasil panen melalui pemupukan berimbang, pemanfaatan teknologi, dan praktik budidaya yang tepat, sehingga hasil panen semakin baik dan usaha tani semakin menguntungkan. Komitmen ini kami wujudkan melalui Pestani Rawit Groo Festival,” ujar Adit, Rabu (19/8/2026).
Ia menjelaskan bahwa Jawa Timur memiliki peran penting dalam produksi cabai rawit nasional. Tercatat sekitar 35 persen produksi cabai rawit nasional berasal dari Jawa Timur, dengan total produksi mencapai lebih dari 600 ribu ton.
Untuk itu, peningkatan produktivitas menjadi penting guna menjaga pasokan cabai sekaligus mendukung ketahanan pangan. Melalui Pestani Rawit Groo Festival, proses budidaya dan hasilnya juga dilombakan.
Dalam kategori Groo Field Creation, peserta menerapkan paket budidaya yang telah disiapkan Petrokimia Gresik sejak tanam hingga panen. Penilaian lomba dilakukan berdasarkan berat total 54 buah cabai rawit dengan bobot penilaian sebesar 80 persen, sedangkan dokumentasi budidaya memiliki bobot 20 persen.
Angka 54 dalam lomba tersebut memiliki makna khusus karena tahun ini Petrokimia Gresik memperingati HUT ke-54. Semangat ulang tahun perusahaan diwujudkan melalui kegiatan yang dekat dengan petani, sekaligus menjadi ruang untuk menunjukkan bahwa peningkatan produktivitas dapat dimulai dari praktik budidaya yang sederhana, tepat, dan konsisten.
Selain kompetisi di lahan, Pestani Rawit Groo Festival juga menghadirkan Groo Plant Creator yang melibatkan 270 pegiat urban farming dari 27 provinsi di Indonesia.
Lewat program ini, peserta membagikan pengalaman budidaya cabai, mulai dari penanaman hingga panen melalui media sosial. Program tersebut turut diperkuat melalui Groo Plant Partner yang melibatkan 54 influencer, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), dan stakeholder untuk memperluas edukasi pertanian serta mendekatkan dunia pertanian kepada masyarakat, khususnya generasi muda.
Secara keseluruhan, Groo Festival melibatkan 540 peserta yang terdiri atas petani dan pegiat urban farming dari berbagai daerah di Indonesia.
“Kompetisi ini tidak hanya mencari petani dengan hasil panen terbaik, tetapi juga mendorong peserta untuk belajar dan membuktikan langsung penerapan budidaya yang lebih terarah di lahan masing-masing. Kami berharap praktik budidaya yang mampu memberikan hasil optimal ini dapat diduplikasi oleh petani lain di Jawa Timur, sehingga manfaat program semakin luas,” bebernya.
Adit menjelaskan bahwa Petrokimia Gresik dalam program ini memperkenalkan pendekatan pertanian berbasis teknologi dan data untuk membantu petani mengambil keputusan budidaya dengan lebih tepat.
Dengan aplikasi AgrooFertile, petani mendapatkan layanan yang mengintegrasikan teknologi artificial intelligence (AI), layanan agronomi, dan basis data.
Sementara Buku Kesuburan Tanah menjadi referensi untuk memahami kondisi tanah, pentingnya uji tanah, pemupukan berimbang, dan pertanian berbasis data. Menurutnya, teknologi akan memberikan manfaat yang lebih besar ketika dapat digunakan dan dipahami oleh petani dalam aktivitas sehari-hari.