Rupiah Menguat ke Rp17.840, Sikap Hawkish BI Jadi Penopang Mata Uang Garuda

Rabu, 19 Agustus 2026 | 15:36 WIB
Nilai tukar rupiah berbalik menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (19/8/2026). Penguatan mata uang Garuda terjadi setelah Bank Indonesia (BI) memutuskan mempertahankan suku bunga acuannya. Foto ANTARA.
  • Rupiah menguat ke Rp17.840 per dolar AS pada Rabu (19/8/2026).
  • Sikap hawkish BI dinilai menopang stabilitas rupiah.
  • Risalah FOMC The Fed berpotensi jadi katalis penguatan rupiah.

Suara.com - Nilai tukar rupiah berbalik menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (19/8/2026). Penguatan mata uang Garuda terjadi setelah Bank Indonesia (BI) memutuskan mempertahankan suku bunga acuannya.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup di level Rp17.840 per dolar AS. Posisi tersebut menguat 23 poin atau sekitar 0,12% dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp17.863 per dolar AS.

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan penguatan rupiah salah satunya dipengaruhi keputusan BI yang kembali mempertahankan BI-Rate di level 5,75%.

"Rupiah ditutup menguat di level Rp17.840 per dolar AS, setelah hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI terkesan hawkish meski mempertahankan BI-Rate di 5,75 persen," kata Lukman saat dihubungi Suara.com.

Menurut dia, sikap tersebut menunjukkan komitmen BI untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian ekonomi global. Kondisi tersebut turut memberikan sentimen positif bagi pergerakan mata uang Garuda.

"Sikap tersebut mencerminkan komitmen BI yang tetap kuat pada stabilitas rupiah di tengah ketidakpastian global, sehingga turut memberikan sentimen positif bagi rupiah," ujarnya.

Lukman menilai ruang penguatan rupiah masih terbuka, terutama dengan pasar yang menantikan hasil pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed).

Menurutnya, risalah FOMC dapat menjadi katalis penting bagi pergerakan rupiah. Pasar akan mencermati apakah The Fed memberikan sinyal kebijakan yang lebih lunak atau less hawkish.

"Apabila dalam risalah pertemuan FOMC malam ini The Fed diharapkan memberikan pernyataan yang less hawkish menyusul serentetan data ekonomi AS yang lebih lemah akhir-akhir ini," jelas Lukman.

Jika The Fed menunjukkan sikap yang lebih dovish, tekanan terhadap dolar AS berpotensi berkurang. Kondisi tersebut dapat memberikan ruang bagi rupiah dan mata uang negara berkembang lainnya untuk menguat.

Penguatan rupiah terjadi di tengah mayoritas mata uang Asia yang juga bergerak positif terhadap dolar AS.

Won Korea Selatan menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di kawasan Asia setelah melonjak 1,26%. Posisi berikutnya ditempati yen Jepang yang menguat 0,29%.

Dolar Singapura juga naik 0,14%, disusul yuan China yang menguat 0,09%. Baht Thailand naik 0,03%, dolar Hong Kong bertambah 0,01%, sedangkan dolar Taiwan menguat tipis 0,003%.

Namun, tidak semua mata uang Asia mampu mempertahankan penguatan. Rupee India menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam setelah terkoreksi 0,07%.

Ringgit Malaysia juga melemah 0,06%, sementara peso Filipina turun tipis 0,05% terhadap dolar AS.

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com