Alasan BI Diproyeksi Pertahankan BI Rate 5,75 Persen di Agustus 2026

Rabu, 19 Agustus 2026 | 07:14 WIB
Sebagai Ilustrasi Bank Indonesia [Suara.com/Alfian Winanto]
  • Bank Indonesia diprediksi mempertahankan BI Rate pada level 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur Agustus 2026.
  • Ekonom Bank Permata Josua Pardede menyarankan bank sentral memberi waktu transmisi kebijakan tanpa mengubah suku bunga.
  • Peluang pelonggaran atau pengetatan kebijakan selanjutnya sangat bergantung pada dinamika rupiah serta pergerakan ekonomi makro.

Suara.com - Bank Indonesia diprediksi kuat masih akan mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate pada level 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) edisi Agustus 2026.

Jika skenario dasar tersebut direalisasikan, kebijakan untuk mempertahankan BI Rate pada angka 5,75 persen ini tentunya akan diikuti oleh ketetapan suku bunga Deposit Facility yang diproyeksikan tetap berada pada angka 4,75 persen, serta suku bunga Lending Facility yang bertahan di level 6,50 persen.

Kestabilan tingkat suku bunga menjadi jangkar penting dalam menakar beban pinjaman riil, seperti Kredit Pemilikan Rumah (KPR) maupun ekspansi kredit modal kerja.

Ekonom dari Bank Permata, Josua Pardede, memberikan pandangannya terkait postur kebijakan moneter saat ini. Menurut tinjauan makroekonominya, kondisi yang terbentuk hingga pertengahan kuartal ketiga tahun ini belum memberikan dasar argumen yang cukup meyakinkan bagi otoritas moneter, baik untuk mengambil langkah pelonggaran secara prematur, maupun pengetatan lebih lanjut.

Josua memberikan penekanan bahwa bank sentral sebaiknya memberikan jeda waktu agar rentetan kebijakan yang sudah dieksekusi sebelumnya dapat bertransmisi secara optimal ke dalam sistem perbankan dan menggerakkan roda ekonomi riil.

"Keputusan terbaik saat ini bukan menaikkan ataupun menurunkan suku bunga, melainkan memberi waktu bagi kenaikan kumulatif 100 basis poin pada Mei-Juni untuk bekerja, sembari BI tetap agresif menjaga rupiah melalui intervensi valas, SRBI, pengelolaan likuiditas, dan instrumen makroprudensial," ujar dia.

Ada pemetaan situasi ekonomi berlapis yang membuat level 5,75 persen dianggap sebagai titik ekuilibrium (keseimbangan) yang paling akurat saat ini. Merujuk pada analisis indikator finansial, setidaknya ada tiga faktor dominan yang saling memberikan daya tarik-menarik dalam konstelasi penentuan kebijakan. Dinamika ini menuntut kehati-hatian ekstra dari Bank Indonesia agar setiap keputusan tidak memicu guncangan arus modal.

"Secara sederhana, ada tiga kekuatan yang saling menahan. Inflasi rendah dan moderasi permintaan domestik menolak kenaikan suku bunga; membaiknya data inflasi AS dan rupiah yang kembali dari Rp18.000 menuju kisaran Rp17.800-Rp17.900 juga mengurangi urgensi kenaikan; tetapi pelebaran defisit transaksi berjalan, penurunan cadangan devisa, ketergantungan pada arus portofolio, serta masih tingginya imbal hasil global membuat penurunan suku bunga belum aman," kata dia, kepada Suara.com pada Rabu (19/8/2026).

Ilustrasi Bank Indonesia (Unsplash/nimbostratus)

Faktor volatilitas mata uang Garuda terhadap dolar Amerika Serikat senantiasa menjadi variabel krusial yang diawasi ketat. Nilai tukar rupiah diproyeksikan akan mencatatkan rata-rata di kisaran Rp18.276 per dolar AS selama periode kuartal ketiga tahun 2026.

Menjelang penutupan kuartal ketiga nanti, pergerakan nilai tukar diperkirakan bertengger pada posisi Rp18.180 per dolar AS, sebelum akhirnya diharapkan mengalami perbaikan secara gradual dan menutup tahun ini di level ekuilibrium baru, yakni sekitar Rp17.906 per dolar AS.

Meskipun saat ini Bank Indonesia diproyeksikan mempertahankan suku bunga, bias kebijakan tersebut memiliki peluang untuk bergeser menjadi lebih akomodatif.

Pelonggaran kebijakan bisa terwujud apabila defisit transaksi berjalan berhasil ditekan lebih rendah dari ekspektasi awal, diiringi peningkatan cadangan devisa yang persisten, pergeseran minat arus modal asing dari instrumen jangka pendek (SRBI) ke instrumen Surat Berharga Negara (SBN) dan investasi riil, serta meredanya gejolak suku bunga di Amerika Serikat.

Di sisi lain, opsi pengetatan moneter lanjutan tidak sepenuhnya dikesampingkan. Bank Indonesia diprediksi harus kembali mempertimbangkan opsi menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin apabila nilai tukar rupiah terperosok ke zona Rp18.300 per dolar AS atau bahkan lebih buruk, terutama jika kondisi tersebut diperparah oleh gelombang arus modal keluar (capital outflow) dan penyusutan cadangan devisa secara drastis.

"Dalam skenario dasar Agustus, menahan suku bunga sambil memperkuat intervensi dan daya tarik instrumen rupiah memberikan perbandingan manfaat dan biaya yang lebih baik dibandingkan menaikkan ataupun menurunkan BI Rate," pungkasnya.

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com