Dolar AS Keok Lagi, Rupiah Kian Perkasa ke Level Rp17.694

Jum'at, 21 Agustus 2026 | 15:51 WIB
etugas salah satu tempat penukaran mata uang asing menunjukkan uang rupiah dan dollar AS di Jakarta, Selasa (19/5/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]
  • Rupiah ditutup Rp17.694 per dolar AS, menguat 54 poin.
  • Dolar AS melemah di tengah rencana buyback obligasi AS.
  • Rupiah berpeluang lanjut menguat pada awal pekan depan.

Suara.com - Penguatan rupiah terus berlanjut hingga akhir pekan. Mata uang Garuda berhasil menunjukkan performa positif di pasar keuangan dan ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah pada Jumat (21/8/2026) ditutup di level Rp17.694 per dolar AS. Posisi tersebut menguat 54 poin atau 0,30% dibandingkan penutupan perdagangan sehari sebelumnya di level Rp17.748 per dolar AS.

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan penguatan rupiah tidak terlepas dari pelemahan indeks dolar AS yang berada di level terendah dalam beberapa bulan terakhir.

Menurutnya, sentimen tersebut berkaitan dengan rencana pembelian kembali atau buyback obligasi oleh Departemen Keuangan AS.

"Rupiah Indonesia menguat terhadap dolar AS, didukung oleh penurunan pada indeks dolar yang berada di level terendah dalam beberapa bulan seiring rencana pembelian kembali obligasi oleh Departemen Keuangan AS," ujar Lukman.

Lukman memperkirakan tren penguatan rupiah masih berpeluang berlanjut pada awal pekan depan. Minimnya agenda ekonomi penting, baik dari dalam maupun luar negeri, dinilai dapat membuat investor lebih fokus mengevaluasi perkembangan pasar global.

"Tidak ada agenda penting dari dalam maupun luar untuk Senin, investor masih akan terus mengevaluasi dampak dari rencana buyback obligasi oleh pemerintah AS serta geopolitik di Timur Tengah yang masih memanas," jelasnya.

Kondisi tersebut membuat pergerakan dolar AS dan sentimen global menjadi faktor penting yang akan menentukan arah rupiah pada perdagangan berikutnya.

Penguatan rupiah terjadi di tengah tren positif mayoritas mata uang Asia terhadap dolar AS.

Won Korea Selatan menjadi mata uang Asia dengan penguatan terbesar, yakni sekitar 0,90%. Setelah itu, dolar Taiwan menguat 0,23%, baht Thailand naik 0,15%, dan dolar Singapura terdorong 0,13%.

Yuan China juga menguat 0,05%, sementara yen Jepang naik tipis 0,03%.

Di sisi lain, peso Filipina menjadi mata uang Asia yang mengalami pelemahan paling dalam dengan turun 0,15%. Ringgit Malaysia juga melemah sekitar 0,02%.

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com