- Nilai tukar rupiah dibuka menguat ke level Rp17.716 per dolar AS pada hari Jumat, 21 Agustus 2026.
- Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyatakan penguatan rupiah terjadi akibat anjloknya kinerja dolar AS.
- Mayoritas mata uang Asia turut mencatatkan penguatan, dengan won Korea Selatan menjadi mata uang terkuat.
Suara.com - Rupiah menunjukkan kinerja yang terus membaik. Mata uang garuda menguat pada pagi ini di pasar keuangan.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah pada Jumat 21 Agustus 2026 dibuka ke level Rp17.716 per dolar Amerika Serikat (AS). Angka ini menguat 32 poin atau turun 0,18 persen pada hari sebelumnya yang ada di Rp17.748 per dolar AS.
Dalam hal ini, Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan penguatan rupiah disebabkan oleh kinerja dolar AS yang anjlok. Salah satunya penurunan harga minyak dunia.
"Rupiah diperkirakan akan berkonsolidasi terhadap dolar AS. Rupiah walau masih didkung oleh penurunan indeks dolar AS, namun kenaikan harga minyak mentah dunia membebani," katanya saat dihubungi Suara.com.
Dia menambahkan, saat ini penguatan rupiah masih akan berlanjut. Namun, data neraca transaksi berjalan yang segera dirilis akan memberikan sentimen negatif pada mata uang Garuda.
Investor cenderung wait and see menantikan data neraca transaksi berjalan kuartal kedua Indonesia yang akan dirilis siang ini. Rupiah akan bergerak Rp17.700-Rp17.800," jelasnya.
Sementara itu, mayoritas mata uang Asia menguat. Rinciannya, won Korea Selatan menjadi terkuat dengan naik 0,90 persen. Diikuti oleh dolar Taiwan yang naik 0,23 persen.
Kemudian, baht Thailand yang menanjak 0,15 persen dan dolar Singapura terdorong 0,13 persen. Selanjutnya yuan China naik 0,5 persen dan yen Jepang terangkat 0,03 persen.
Sedangkan peso Filipina menjadi mata uang paling dalam dengan anjlok 0,15 persen. Diikutin ringgit Malaysia 0,02 persen.