- Muhammad Hafidz Hernanda diserang dan dirampas barangnya oleh orang tak dikenal di Jakarta Selatan pada Minggu malam.
- Warga sekitar sempat mengira peristiwa tersebut adalah kecelakaan lalu lintas sebelum mengetahui korban kehilangan ponsel dan tasnya.
- Pihak kepolisian menyelidiki motif penyerangan setelah menemukan tas pelaku yang berisi sarung tangan lateks dan lakban di lokasi.
Suara.com - Kasus penyerangan terhadap Koordinator Sosial Politik BEM Universitas Indonesia, Muhammad Hafidz Hernanda, sempat memicu salah sangka di kalangan warga sekitar.
Peristiwa dugaan penganiayaan dan perampasan barang tersebut terjadi di Jalan Tebet Barat Dalam IX, Jakarta Selatan, pada Minggu (4/10/2026) malam.
Hafidz disebut dianiaya oleh orang tak dikenal usai ditendang dari motornya sepulang dari agenda konsolidasi bersama perwakilan mahasiswa lintas kampus.
Saat pertama kali ditemukan di badan jalan, Hafidz diduga menjadi korban kecelakaan lalu lintas oleh warga sekitar yang memberikan pertolongan.
”Orang nyangkanya nih, apa namanya, tabrakan,” kisah salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya kepada awak media di lokasi, Selasa (6/10/2026).
Dikisahkan oleh warga tersebut, terduga pelaku penyerangan datang dari arah berlawanan dengan Hafidz. Dengan demikian, dugaan kecelakaan adu banteng yang melibatkan kedua pengendara motor sempat dianggap masuk akal.
Namun, dugaan kecelakaan itu seketika luntur setelah warga mendengar cerita Hafidz soal barang berharganya yang raib diambil terduga pelaku.
”Jadi kayaknya korban begal gitu, karena HP sama tasnya diambil,” lanjut warga yang berbagi cerita secara anonim itu.
Hafidz sendiri juga digambarkan dalam kondisi syok dan terbata-bata saat dimintai penjelasan singkat oleh warga sekitar yang menolongnya usai kejadian.
Indikasi adanya aksi terencana disebut kian menguat setelah sebuah tas jinjing milik terduga pelaku tertinggal di lokasi. Tas tersebut diketahui berisi sarung tangan lateks dan lakban.
Saat ini, aparat kepolisian tengah mendalami motif penyerangan tersebut, termasuk dugaan bahwa aksi itu berkaitan dengan intimidasi.
Menurut warga, beberapa anggota kepolisian sudah mulai datang silih berganti ke lokasi kejadian sejak Senin (5/10/2026).
Rektorat Universitas Indonesia juga memberikan pendampingan medis serta bantuan hukum kepada sang aktivis kampus guna mengusut tuntas perkara kekerasan tersebut.