- Harga minyak mentah dunia turun lebih dari 1 dolar AS per barel pada perdagangan Senin, 24 Agustus 2026.
- Penurunan harga minyak disebabkan aksi ambil untung investor menjelang pengumuman sanksi baru Amerika Serikat terhadap Iran.
- Kontrak Brent turun menjadi 93,16 dolar AS per barel dan WTI terkoreksi ke level 85,70 dolar AS per barel.
Suara.com - Harga minyak mentah dunia mencatatkan penurunan lebih dari 1 dolar AS per barel pada perdagangan awal pekan, Senin (24/8/2026).
Penurunan ini dipicu oleh langkah para investor yang mengambil tindakan profit taking (aksi ambil untung) menjelang rencana pengumuman sanksi baru dari pemerintah Amerika Serikat terhadap Iran, yang berisiko memperketat gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah.
Berdasarkan data perdagangan, harga minyak mentah berjangka jenis Brent mengalami penurunan sebesar 1,23 dolar AS atau setara 1,3 persen, berada di posisi 93,16 dolar AS per barel.
Sementara itu, minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) asal Amerika Serikat terkoreksi 1,36 dolar AS atau 1,6 persen ke level 85,70 dolar AS per barel.
Penurunan di awal pekan ini terjadi setelah kedua kontrak acuan minyak tersebut mencatatkan kenaikan mingguan dua kali berturut-turut pada pekan sebelumnya dengan lonjakan lebih dari 5 persen.
Penguatan sebelumnya didorong oleh kebuntuan negosiasi damai antara AS dan Iran, yang berdampak pada tersendatnya pengiriman minyak melalui Selat Hormuz—jalur logistik krusial tempat berlalunya seperlima dari total pasokan minyak dunia.
Rencana Sanksi Ekonomi Baru AS Terhadap Iran
Tekanan terhadap pasar minyak dunia meningkat seiring dengan rencana Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, yang dijadwalkan menggelar konferensi pers untuk mengumumkan sanksi yang diklaim sebagai sanksi terberat dalam sejarah terhadap Iran.
Di saat yang sama, Presiden AS Donald Trump turut mengancam akan menjatuhkan sanksi bagi negara-negara yang menjadi mitra dagang Tehran.
Analis komoditas dari Commonwealth Bank of Australia, Vivek Dhar, menilai strategi mengisolasi Iran secara ekonomi memiliki risiko tersendiri bagi stabilitas pasar energi.
Menurutnya, jika sanksi AS bekerja efektif, potensi respons balik dari Iran dalam bentuk eskalasi konflik dapat menjadi risiko baru bagi pasar.
Sementara, laporan Reuters mengatakan, internal kepemimpinan Iran menunjukkan adanya perbedaan visi. Meski Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyuarakan penyelesaian diplomatik, kelompok garis keras di pemerintahan dinilai cenderung memilih jalan konfrontasi.
Dari sisi perdagangan fisik, pasokan minyak mentah Iran ke pembeli di Tiongkok dilaporkan menurun dan harganya melonjak akibat blokade yang diterapkan pihak AS.
Meskipun ketegangan menutup sebagian jalur distribusi, kantor berita resmi Iran (IRNA) melaporkan bahwa pihak Tehran telah memberikan izin bagi sejumlah kapal tanker minyak Irak untuk melintasi Selat Hormuz setelah menerima permintaan resmi dari Baghdad.
Kendati demikian, sejumlah analis memproyeksikan proses pemulihan pasokan energi dari Timur Tengah akan memakan waktu lebih lama dari perkiraan awal. Tim analis Morgan Stanley mencatat bahwa ketersediaan pasokan minyak saat ini terus mengetat, ditandai dengan penurunan tajam pada oil-on-water (minyak dalam perjalanan laut) serta penyusutan persediaan minyak di darat, termasuk di Tiongkok. Data agregat ekspor dari Timur Tengah menunjukkan volume pengiriman yang kembali tertahan pada level awal tahun, sehingga memperlambat laju pemulihan pasokan global.