Ekonomi Sirkular Buka Peluang Pendapatan Baru

Selasa, 25 Agustus 2026 | 08:19 WIB
Ilustrasi bahan-bahan daur ulang. [Shutterstock]
  • Sampah rumah tangga berpotensi diolah menjadi produk bernilai ekonomi.
  • Ibu rumah tangga dilatih mendaur ulang sampah menjadi produk bernilai jual.
  • Ekonomi sirkular didorong sebagai sumber penghasilan tambahan keluarga.

Suara.com - Sampah rumah tangga selama ini kerap dipandang sebagai persoalan lingkungan yang harus segera disingkirkan. Namun, di tangan masyarakat yang memiliki keterampilan dan kreativitas, sampah justru dapat berubah menjadi sumber daya yang menghasilkan nilai guna sekaligus membuka peluang ekonomi.

Hal inilah yang coba didorong Peruri melalui Program Peruri Asri (Aksi Sustainable untuk Resiliensi Indonesia) yang memasuki tahun kedua. Program tersebut resmi dimulai melalui Kick-Off Program Peruri Asri 2026 yang digelar di Rumah BUMN Karawang, Telukjambe, Karawang, pada Sabtu (22/8/2026).

Kegiatan tersebut dibuka Koordinator Corporate Communication & TJSL Peruri, Yahdi Lil Ihsan. Acara turut disaksikan Penelaah Teknis Kebijakan Bidang Kebersihan Pengelolaan Sampah dan Limbah Dinas Lingkungan Hidup Karawang, Melinda Rose Diana, serta Kepala Dusun Sukamanah, Desa Telukjambe, Helili.

Sebanyak 25 ibu rumah tangga yang tergabung dalam Kelompok Sadar Sampah Peruri (KSSP) hadir dalam kegiatan tersebut. Selain itu, terdapat 15 ibu rumah tangga dari lingkungan sekitar yang memiliki kepedulian dan visi serupa dalam pengelolaan sampah rumah tangga.

Program Peruri Asri dirancang untuk meningkatkan kesadaran, keterampilan, sekaligus kreativitas masyarakat dalam mengelola sampah. Peruri melihat sampah rumah tangga bukan sekadar limbah, melainkan bahan baku yang dapat diolah kembali menjadi produk yang memiliki manfaat dan nilai ekonomi.

“Melalui Peruri Asri, kami ingin mendorong masyarakat agar mampu melihat sampah sebagai sebuah sumber daya yang dapat diolah secara kreatif,” ujar Yahdi.

Menurut dia, pendekatan program tidak berhenti pada edukasi mengenai lingkungan. Peserta juga mendapatkan pengalaman praktik melalui pelatihan membuat produk daur ulang berbahan dasar sampah rumah tangga.

“Dengan begitu, pengelolaan sampah tidak hanya menjaga kelestarian lingkungan, tetapi juga mampu menciptakan nilai tambah bagi masyarakat,” katanya.

Memasuki tahun kedua, Peruri Asri membawa perubahan fokus. Jika pada tahun pertama program lebih banyak memberikan edukasi dasar mengenai pemilahan sampah rumah tangga dan pengelolaan sampah organik dengan metode Takakura, tahun ini pemberdayaan ekonomi menjadi perhatian utama.

Para peserta diarahkan untuk mengolah sampah menjadi barang yang dapat digunakan kembali maupun produk turunan yang berpotensi menjadi sumber pendapatan tambahan bagi keluarga.

Pendekatan tersebut sejalan dengan konsep circular economy, yakni mengupayakan agar suatu material tidak langsung berakhir menjadi limbah, tetapi dapat digunakan kembali, didaur ulang, atau diolah menjadi produk baru yang mempunyai nilai.

Sampah rumah tangga selama ini kerap dipandang sebagai persoalan lingkungan yang harus segera disingkirkan. Foto ist.

Dengan pola tersebut, sampah tidak hanya dipandang dari sisi biaya dan persoalan lingkungan, tetapi juga sebagai peluang menciptakan aktivitas ekonomi baru di tingkat rumah tangga.

Peruri juga memperluas manfaat program melalui mekanisme transfer pengetahuan. Para anggota KSSP yang telah mendapatkan pelatihan didorong menjadi mentor bagi ibu-ibu lain di luar kelompok.

Langkah ini diharapkan membuat keterampilan pengelolaan dan pemanfaatan sampah dapat menyebar lebih luas tanpa sepenuhnya bergantung pada pendampingan dari penyelenggara program.

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com