Demo Besar Hari Ini, Awas Rupiah dan IHSG Bisa Keok

Kamis, 27 Agustus 2026 | 07:30 WIB
Warga mengamati layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta,. [ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin/bar]
  • Kepala Pusat Makroekonomi Indef M. Rizal Taufikurahman menyatakan demonstrasi 27 Agustus 2026 menekan IHSG dan rupiah.
  • Investor mengamati apakah aksi unjuk rasa tersebut memicu ketidakpastian politik serta gangguan ekonomi atau tidak.
  • Risiko arus modal keluar akan terjadi apabila aksi unjuk rasa tersebut meningkatkan premi risiko Indonesia.

Suara.com - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan rupiah di pasar keuangan akan alami tekanan. 

Lantaran,  demonstrasi pada 27 Agustus 2026 dinilai dapat menjadi tambahan sentimen negatif bagi pasar keuangan Indonesia. 

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M. Rizal Taufikurahman, mengatakan demonstrasi tidak serta-merta membuat investor menghukum pasar Indonesia. 

Investor akan melihat apakah aksi tersebut hanya menjadi bentuk ekspresi demokrasi atau berkembang menjadi instabilitas politik dan gangguan terhadap aktivitas ekonomi.

Demo 27 Agustus tentu menjadi tambahan sentimen negatif bagi pasar, terlebih IHSG hari ini sudah terkoreksi sekitar 1,48 persen ke level 6.405. Namun pasar tidak akan serta-merta menghukum Indonesia hanya karena ada demonstrasi,” kata Rizal saat dihubungi Suara.com, Kamis (27/8/2026).

Menurut dia, investor akan memperhatikan apakah aksi demonstrasi berlangsung tertib atau justru memicu ketidakpastian yang lebih luas, termasuk gangguan aktivitas ekonomi dan ketidakjelasan arah kebijakan.

Ilustrasi massa melakukan demonstrasi di depan gedung DPR RI, Senayan, Jakarta. (ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga).

“Yang dihitung investor adalah apakah aksi tersebut berhenti sebagai ekspresi demokrasi atau berkembang menjadi instabilitas politik, gangguan aktivitas ekonomi, dan ketidakpastian kebijakan. Jika berlangsung tertib, dampaknya kemungkinan sebatas peningkatan volatilitas jangka pendek,” bebernya.

Rizal menilai, terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa investor asing akan melakukan aksi jual besar-besaran atau hengkang dari pasar Indonesia. 

Risiko arus modal keluar atau capital outflow, menurut dia, baru menjadi lebih serius apabila demonstrasi meningkatkan premi risiko atau risk premium Indonesia.

“Saya kira terlalu dini menyimpulkan investor asing akan hengkang besar-besaran. Capital outflow baru menjadi risiko serius ketika demonstrasi meningkatkan risk premium Indonesia,” tegasnya.

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com