Setelah Sempat Deflasi, BPS Catat Inflasi di Agustus

Selasa, 01 September 2026 | 12:12 WIB
BPS melaporkan Indonesia mencatat inflasi bulanan sebesar 0,21 persen pada Agustus 2026 di Jakarta. [Freepik]
  • BPS melaporkan Indonesia mencatat inflasi bulanan sebesar 0,21 persen pada Agustus 2026 di Jakarta.
  • Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi pendorong utama kenaikan inflasi tersebut akibat komoditas daging ayam ras.
  • Sebanyak 27 provinsi mengalami inflasi dengan yang tertinggi di Kepulauan Bangka Belitung dan Maluku.

Suara.com - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi bulanan mencapai 0,21 persen pada Agustus 2026, berbalik dari tren bulan sebelumnya yang mencatat deflasi sebesar 0,14 persen.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono di Jakarta, Selasa (1/10/2026) mengatakan inflasi terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 111,73 pada Juli 2026 menjadi 111,97 pada Agustus 2026.

“Kelompok pengeluaran yang mendorong inflasi bulanan terbesar terutama adalah makanan, minuman, dan tembakau, dengan inflasi sebesar 0,57 persen. Kelompok tersebut memberikan andil inflasi sebesar 0,17 persen,” kata Ateng.

Adapun komoditas yang dominan mendorong inflasi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau terutama daging ayam ras, dengan andil inflasi sebesar 0,17 persen. Kemudian cabai rawit, ikan segar, dan beras dengan andil inflasi masing-masing sebesar 0,02 persen.

Selain itu, kacang panjang, buncis, jagung manis, ketimun, semangka, sigaret kretek mesin (SKM), dan sigaret putih mesin (SPM) memberikan andil inflasi masing-masing sebesar 0,01 persen.

Selain kelompok makanan, minuman, dan tembakau, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga memberikan andil terhadap inflasi sebesar 0,03 persen, dengan inflasi sebesar 0,37 persen.

Inflasi kelompok ini terutama didorong oleh kenaikan harga emas perhiasan sebesar 0,75 persen, yang memberikan andil inflasi sebesar 0,02 persen.

Pada Agustus 2026, kelompok transportasi mengalami deflasi sebesar 0,50 persen dan memberikan andil deflasi sebesar 0,06 persen.

Adapun komoditas yang dominan mendorong deflasi pada kelompok transportasi terutama tarif angkutan udara, dengan andil deflasi sebesar 0,06 persen. Bensin juga memberikan andil deflasi sebesar 0,03 persen.

Sedangkan dari sisi komponen, inflasi inti (core inflation) dan harga bergejolak (volatile food) mengalami inflasi, sementara harga diatur pemerintah (administered price) mengalami deflasi.

Menurut Ateng, inflasi Agustus 2026 yang sebesar 0,21 persen terutama didorong oleh inflasi pada komponen harga bergejolak, dengan inflasi sebesar 0,88 persen dan berkontribusi sebesar 0,15 persen terhadap inflasi umum.

Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi pada komponen harga bergejolak terutama daging ayam ras, cabai rawit, dan beras.

Sementara itu, komponen inti mengalami inflasi sebesar 0,21 persen dengan andil 0,13 persen. Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi pada komponen inti terutama emas perhiasan, pelumas atau oli mesin, telepon seluler, serta biaya kuliah akademi atau perguruan tinggi.

Selanjutnya, harga yang diatur oleh pemerintah mengalami deflasi sebesar 0,33 persen dengan andil deflasi sebesar 0,07 persen. Komoditas yang dominan memberikan andil deflasi pada komponen harga yang diatur pemerintah adalah tarif angkutan udara dan bensin.

Adapun secara wilayah, sebanyak 27 provinsi mengalami inflasi dan 11 provinsi mengalami deflasi.

Inflasi tertinggi terjadi di Kepulauan Bangka Belitung dan Maluku, masing-masing sebesar 0,81 persen. Sementara deflasi terdalam terjadi di Papua Pegunungan sebesar 1,27 persen.

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com