Surplus Neraca Dagang RI Terancam Menyempit, Impor Melonjak Hampir 20 Persen

Selasa, 01 September 2026 | 16:31 WIB
Ilustrasi ekspor-impor. [ANTARA]
  • Deputi BPS Ateng Hartono melaporkan ekspor Indonesia periode Januari hingga Juli 2026 mencapai 167,03 miliar Dolar AS.
  • Impor Indonesia pada Januari hingga Juli 2026 melonjak signifikan hingga menembus angka 163,33 miliar Dolar AS.
  • Neraca perdagangan Indonesia mengalami penipisan surplus secara akumulatif hingga Juli 2026 menjadi 3,70 miliar Dolar AS.

Suara.com - Kinerja perdagangan luar negeri Indonesia sepanjang Januari hingga Juli 2026 menunjukkan sinyal kewaspadaan. Meski nilai ekspor masih mencatatkan pertumbuhan positif, lonjakan impor yang signifikan berpotensi menggerus daya tahan surplus neraca perdagangan barang nasional.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS), Ateng Hartono menyampaikan bahwa akumulasi nilai ekspor Indonesia sepanjang periode Januari hingga Juli 2026 berhasil mencapai 167,03 miliar Dolar AS. Angka ini tumbuh 4,43 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Namun di saat yang sama, laju impor membumbung jauh lebih tinggi. BPS mencatat nilai impor Indonesia pada Januari–Juli 2026 menembus 163,33 miliar Dolar AS atau melonjak hingga 19,94 persen ketimbang periode Januari–Juli 2025.

Pertumbuhan impor yang hampir mencapai 20 persen tersebut membuat selisih neraca perdagangan barang Indonesia menipis. Secara akumulatif hingga Juli 2026, neraca perdagangan barang Indonesia secara keseluruhan hanya mampu mencatatkan surplus sebesar 3,70 miliar Dolar AS.

"Sepanjang periode Januari sampai dengan Juli tahun 2026, nilai ekspor Indonesia mencapai 167,03 miliar dollar AS atau meningkat sebesar 4,43 persen. Nilai impor sepanjang Januari sampai dengan Juli tahun 2026 mencapai 163,33 miliar US dollar atau meningkat 19,94 persen," ungkap Ateng Hartono dalam konferensi pers yang dipantau virtual, Selasa (1/9/2026).

Jika ditinjau secara bulanan, kinerja neraca perdagangan pada Juli 2026 sendiri tercatat surplus tipis sebesar 0,12 miliar Dolar AS. Kinerja bulan Juli tersebut ditopang oleh surplus komoditas nonmigas sebesar 3,10 miliar Dolar AS, terutama dikontribusikan oleh lemak dan minyak hewani/nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja.

Namun, surplus non migas bulan Juli tersebut tergerus tajam oleh defisit sektor migas yang mencapai 2,98 miliar Dolar AS.

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com