Ekspor RI Naik Jadi USD 167 Miliar per Juli 2026, Tapi Impor Melonjak Hampir 20%

Selasa, 01 September 2026 | 14:52 WIB
Ilustrasi ekspor impor. Foto: Terminal Petikemas (TPK) Bitung, salah satu TPK yang mulai dioperasikan pada Jumat (1/4/2022) oleh PT Pelindo Terminal Petikemas (SPTP). ANTARA/HO-SPTP
  • BPS melaporkan ekspor Indonesia periode Januari hingga Juli 2026 tumbuh 4,43 persen menjadi 167,03 miliar Dolar AS.
  • Impor nasional pada Januari hingga Juli 2026 melonjak tajam sebesar 19,94 persen mencapai 163,33 miliar Dolar AS.
  • Akumulasi neraca perdagangan Indonesia hingga bulan Juli 2026 masih mampu mempertahankan posisi surplus sebesar 120 juta Dolar AS.

Suara.com - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kinerja perdagangan luar negeri Indonesia sepanjang periode Januari hingga Juli 2026 tetap tumbuh positif. Kendati demikian, laju pertumbuhan impor tercatat melonjak signifikan dan melampaui laju pertumbuhan ekspor nasional.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono menyampaikan bahwa secara kumulatif, total nilai ekspor Indonesia sepanjang Januari–Juli 2026 berhasil mencapai 167,03 miliar Dolar AS atau sekitar Rp 2.963,3 triliun (kurs 1 Dolar AS = Rp 17.734).

Capaian ini menunjukkan pertumbuhan sebesar 4,43 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

"Total nilai ekspor mencapai 167,03 miliar dolar AS atau naik sebesar 4,43 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya," ujar Ateng dalam konferensi pers yang dipantau virtual, Selasa (1/9/2026).

Peningkatan ekspor nasional ini utamanya disokong oleh kinerja ekspor nonmigas yang naik 5,21 persen menjadi 160,01 miliar Dolar AS atau sekitar Rp 2.837,6 triliun.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono dalam konferensi pers virtual yang disiarkan YouTube BPS, Selasa (1/9/2026). [Screenshot YouTube]

Pengiriman komoditas seperti nikel dan barang daripadanya (HS75), bahan bakar mineral (HS27), serta lemak dan minyak hewani/nabati (HS15) menjadi penopang utama pertumbuhan ekspor nonmigas tersebut.

Sebaliknya, nilai ekspor migas mengalami penurunan sebesar 10,63 persen menjadi 7,02 miliar Dolar AS atau Rp 124,5 triliun.

Di sisi lain, laju impor Indonesia tercatat bertumbuh lebih agresif. Sepanjang Januari hingga Juli 2026, total nilai impor RI telah menyentuh 163,33 miliar atau Rp 2.897,9 triliun.

Angka ini melonjak tajam hingga 19,94 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Peningkatan impor terjadi baik pada sektor migas maupun nonmigas. Impor migas melonjak 40,24 persen menjadi 25,77 miliar Dolar AS, sementara impor nonmigas naik 16,78 persen menjadi 137,56 miliar Dolar AS.

Pendorong utama pesatnya laju impor ini berasal dari kenaikan permintaan barang bahan baku/penolong yang mencapai 116,70 miliar Dolar AS atau naik 20,48 persen. Kelompok penggunaan ini memberikan andil terbesar terhadap total lonjakan impor nasional.

Secara bulanan pada Juli 2026, nilai ekspor berada di angka 26,22 miliar Dolar AS atau naik 6,05 persen yoy. sedangkan nilai impor menembus 26,09 miliar Dolar AS atau meningkat 27,02 persen yoy.

Kendati laju impor membayangi ekspor secara ketat, akumulasi neraca perdagangan Indonesia hingga Juli 2026 masih mampu mempertahankan posisi surplus mencapai 120 juta Dolar AS per Juli 2026.

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com