- Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menguat 25 poin ke level Rp17.615 pada Selasa 8 September.
- Analis menyatakan penguatan rupiah terjadi karena absennya data ekonomi penting di Amerika Serikat.
- Mayoritas mata uang Asia turut mengalami penguatan, dipimpin oleh yen Jepang sebesar 0,90 persen.
Suara.com - Pergerakan rupiah di pasar keuangan hari ini melanjutkan kinerja positif. Mata uang Garuda terus menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah pada Selasa 8 September dibuka ke level Rp17.615 per dolar Amerika Serikat (AS).
Angka ini menguat 25 poin atau turun 0,14 persen hari sebelumnya yang ada di Rp17.640 per dolar AS.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan pemguatan ini dikarenakan belum ada data ekonomi penting di Amerika Serikat.
"Rupiah berkonsolidasi terhadap dolar AS di tengah absennya data ekonomi penting baik dari internal maupun eksternal hari ini," katanya saat dihubungi Suara.com.
Dia pun mewaspadai sentimen global di Timur Tengah. Sebab, bisa menaikkan harga minyak dunia di tengah gejolak politik Iran dan Amerika Serikat.
Walau rupiah mungkin didukung oleh indeks dolar yang terpantau terkoreksi, namun harga minyak mentah dunia yang masih naik oleh eskalasi di Timur Tengah membebani. Jadi kemungkinan range rupiah bergerak Rp17.600-Rp17.700," jelasnya.
Sementara itu, mayoritas mata uang Asia cenderung menguat. Rinciannya, yen Jepang paling kuat di Asia dengan naik 0,90 persen. Disusul oleh won Korea Selatan yang menanjak 0,60 persen.
Diikuti oleh dolar peso Filipina naik 0,21 persen. Lalu ada dolar Taiwan menguat 0,19 persen dan baht Thailand juga naik 0,18 persen.
Selain itu, dolar Singapura juga terkerek naik 0,12 persen dan yuan China naik 0,09 persen. Sedangkan ringgit Malaysia menjadi mata uang Asia Tenggara yang melemah 0,03 persen.