Gudang Garam Raup Laba Rp2,9 Triliun Meski Pendapatan Anjlok 7,2 Persen

Kamis, 10 September 2026 | 13:19 WIB
PT Gudang Garam Tbk membukukan laba Rp2,976 triliun pada semester I 2026 meskipun pendapatan perseroan mengalami penurunan. [Antara]
  • PT Gudang Garam Tbk membukukan laba Rp2,976 triliun pada semester I 2026 meskipun pendapatan perseroan mengalami penurunan.
  • Peningkatan laba tersebut ditopang oleh penyesuaian harga jual, penurunan beban usaha, serta berkurangnya biaya bunga perusahaan.
  • Direktur Gudang Garam Heru Budiman menyampaikan penjelasan tersebut dalam Public Expose Live 2026 di Jakarta.

Suara.com - Produsen rokok PT Gudang Garam Tbk membukukan laba Rp2,976 triliun pada semester I 2026, meningkat Rp120 miliar dari periode sama setahun sebelumnya, meski pendapatan perseroan turun 7,2 persen.

Direktur Gudang Garam Heru Budiman mengatakan perbaikan laba ditopang antara lain oleh penyesuaian harga jual, penurunan beban usaha, serta berkurangnya biaya bunga.

"Di profitnya, ini menunjukkan perbaikan yang sebetulnya terjadi karena timing kenaikan harga," kata Heru dalam Public Expose Live 2026 di Jakarta, Kamis (10/9/2026).

Heru menjelaskan sebagian besar kenaikan harga pada 2025 dilakukan pada paruh kedua tahun tersebut. Dengan demikian, perseroan memasuki semester I 2026 dengan tingkat harga jual yang lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, ditambah penyesuaian harga pada awal 2026.

"Kenaikan harga di 2025 lebih banyak terjadi di paruh kedua tahun 2025. Sehingga tahun 2026 harga awal paruh pertama 2026 sudah lebih tinggi, ditambah dengan kenaikan harga yang terjadi di tahun 2026 ini," ujarnya.

Pendapatan Gudang Garam sepanjang Januari-Juni 2026 tercatat Rp41,177 triliun, turun dari Rp44,369 triliun pada periode yang sama tahun lalu, terutama sejalan dengan volume penjualan yang berkurang 13,6 persen.

Volume penjualan perseroan turun menjadi 20,5 miliar batang pada semester I 2026 dari 23,7 miliar batang pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Meski pendapatan menurun, beban pokok pendapatan berkurang lebih dalam, yakni 13,3 persen menjadi Rp35,192 triliun dari Rp40,581 triliun. Kondisi tersebut membuat laba bruto meningkat 58 persen menjadi Rp5,986 triliun dari Rp3,788 triliun.

Margin laba bruto perseroan pun meningkat menjadi 14,5 persen dari 8,5 persen pada semester I 2025. Materi perseroan menyebut perbaikan margin tersebut ditopang kenaikan harga jual.

Pada saat yang sama, beban usaha yang mencakup biaya penjualan, umum, dan administrasi turun 33,8 persen menjadi Rp2,262 triliun dari Rp3,419 triliun.

Perseroan mencatat penurunan antara lain berasal dari biaya pemasaran dan kompensasi karyawan.

"Penurunan ini terutama terjadi karena berkurangnya aktivitas selling expense alias marketing," ucap Heru.

Beban bunga juga menyusut menjadi Rp5 miliar dari Rp219 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya sejalan dengan berkurangnya tingkat pinjaman.

Kombinasi perubahan tersebut membuat margin laba meningkat menjadi 7,2 persen dari 0,3 persen.

Dari sisi neraca, posisi kas perseroan mencapai Rp8,720 triliun per 30 Juni 2026, meningkat 119,7 persen dibandingkan Rp3,970 triliun pada tanggal yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, persediaan turun 14,2 persen menjadi Rp31,763 triliun dari Rp37,034 triliun.

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com