- MNC Sekuritas menyarankan investor menahan saham GGRM dengan target harga Rp18.000 per saham pada Juli 2026.
- Kenaikan laba bersih GGRM kuartal I 2026 didorong efisiensi biaya, bukan pemulihan permintaan produk rokok inti.
- GGRM menghadapi risiko penurunan volume penjualan akibat fenomena pergeseran konsumen ke produk rokok yang lebih murah.
Suara.com - MNC Sekuritas merekomendasikan untuk investor untuk tidak buru-buru menaruh dananya di saham PT Gudang Garam Tbk (GGRM) atau Hold. Meski emiten rokok itu menorehkan laba yang tinggi pada kuartal I-2026.
MNC Sekuritas memandang perbaikan kinerja belum sepenuhnya mencerminkan pemulihan fundamental bisnis rokok perseroan.
MNC Sekuritas menetapkan target harga (target price/TP) saham GGRM sebesar Rp18.000 per saham. Valuasi tersebut mencerminkan proyeksi price to earnings ratio (PER) FY26E/FY27F sebesar 9,9 kali dan 7,8 kali, serta price to book value (PBV) sebesar 0,5 kali.
Research Analyst MNC Sekuritas Catherine Florencia M menilai kenaikan laba Gudang Garam pada kuartal I 2026 lebih banyak ditopang oleh efisiensi biaya dibandingkan pemulihan permintaan rokok.
"Kami menilai lonjakan laba bersih terutama mencerminkan hasil rasionalisasi biaya, khususnya efisiensi tenaga kerja, dan belum menjadi bukti adanya pemulihan yang berarti pada permintaan inti produk rokok," ujar Catherine Florencia M dalam risetnya yang dikutip, Senin (13/7/2026).
Secara kinerja, Gudang Garam membukukan pendapatan sebesar Rp20,1 triliun pada kuartal I 2026 atau turun 12,8 persen secara tahunan (year on year/YoY).
Meski demikian, laba bersih melonjak menjadi Rp1,5 triliun, naik 1.330,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan tersebut turut mendorong margin laba bersih (NPM) menjadi 7,6 persen dari hanya 0,5 persen pada kuartal I 2025.
Menurut Catherine, lonjakan laba tersebut didorong oleh efisiensi biaya bahan baku, tenaga kerja, biaya produksi, serta penurunan beban operasional.
Beban operasional turun 35 persen secara tahunan menjadi Rp1,2 triliun, sementara jumlah karyawan berkurang menjadi 21.454 orang pada Maret 2026 dari 28.033 orang pada Maret 2025.
Baca Juga: IHSG Mulai Menguat Lagi Pagi ini, Saham RANS Diburu Investor
Di sisi lain, MNC Sekuritas menilai kebijakan pemerintah yang membekukan tarif cukai hasil tembakau pada 2026 memang memberikan ruang bagi GGRM untuk menjaga profitabilitas. Namun, kebijakan tersebut belum cukup kuat untuk mendorong pemulihan volume penjualan.
"Kami tidak memperkirakan pembekuan tarif cukai saja akan mampu memulihkan volume penjualan secara signifikan," jelas Chaterine.
Ia menjelaskan, GGRM masih menghadapi tekanan akibat fenomena downtrading, yakni pergeseran konsumen ke produk rokok dengan harga lebih murah. Perseroan dinilai lebih rentan dibandingkan pesaing yang telah memiliki portofolio produk dengan harga lebih terjangkau maupun produk bebas asap.
Selain itu, diversifikasi bisnis non-tembakau Gudang Garam juga belum memberikan kontribusi berarti terhadap kinerja perusahaan. Bisnis infrastruktur, termasuk Bandara Dhoho Kediri dan proyek Jalan Tol Kediri–Tulungagung, masih membukukan kerugian sehingga diperkirakan baru memberikan kontribusi dalam jangka panjang.
Atas berbagai pertimbangan tersebut, MNC Sekuritas tetap mempertahankan rekomendasi Hold terhadap saham GGRM.
Berdasarkan data Stockbit, hingga pukul 10.42 WIB saham GGRM diperdagangkan naik 300 poin atau 1,83 persen ke level Rp16.675 per saham.
"Kami mempertahankan rekomendasi HOLD untuk saham GGRM dengan target harga Rp18.000 per saham. Risiko penurunan berasal dari tekanan volume penjualan akibat fenomena downtrading, lemahnya daya beli masyarakat, serta pengetatan regulasi. Kami juga meyakini kontribusi dari diversifikasi bisnis non-tembakau masih akan terbatas dalam jangka pendek, sehingga prospek investasi perusahaan masih sangat bergantung pada stabilisasi bisnis inti rokok," pungkas Chaterine.
Disclaimer: Artikel ini merupakan informasi pasar dan bukan merupakan ajakan atau rekomendasi untuk membeli maupun menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing investor.
Berita Terkait
Terpopuler
- Bedak Tabur atau Bedak Padat Dulu? Panduan Makeup Flawless Tahan Lama
- 4 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Sesuai Review Pembeli
- 4 Shio yang Menarik Keberuntungan 12 Juli 2026, Masa Sulit Diprediksi Berakhir
- Aisyah Zakkiyah, Komisaris Baru PTPP yang Viral Punya Gaji dan Tunjangan Miliaran
- Bedak Tabur Apa yang Bikin Glowing dan Tahan Lama? Ini 5 Rekomendasi sesuai Review dan Harga
Pilihan
-
Hari Pertama Sekolah Mencekam! SDN Srengseng Sawah 15 Diteror Bom, Gegana dan Densus 88 Turun Tangan
-
Iran Luncurkan Serangan Balasan ke Amerika, Serbuan Drone Meluncur
-
Garda Revolusi Iran Tutup Lagi Selat Hormuz Sampai Batas Waktu Tak Ditentukan
-
Jadi Tersangka Bareng Eks Jampidsus Febrie, Don Ritto Sudah Ditahan di Rutan Polda Metro Jaya
-
Polri Tetapkan Febrie Adriansyah dan DR Tersangka Kasus Dugaan Korupsi serta TPPU
Terkini
-
Prabowo Minta yang Pesimistis Tinggalkan Indonesia, IKK Turun hingga IHSG Anjlok 32% YTD
-
Skandal KUR BNI, Kejati Ungkap Korupsi Rp41,48 Miliar Libatkan 900 Petani Fiktif
-
Alasan PT KAI Rombak Stasiun Bogor Secara Besar-besaran
-
Kementan Tambah Anggaran Pertanian Papua, Total Alokasi 2026 Capai Rp3,2 Triliun
-
Jakarta Fair Kemayoran 2026 Catat Transaksi Lebih dari Rp8 Triliun, Dikunjungi 6 Juta Orang
-
Rupiah Terus Anjlok, Dolar AS Naik ke Level Rp18.116
-
IHSG Mulai Menguat Lagi Pagi ini, Saham RANS Diburu Investor
-
Jakarta Fair 2026 Ditutup, Transaksi Tembus Rp8,2 Triliun dan Dikunjungi 6,1 Juta Orang
-
Garuda Indonesia Ubah Aturan Bagasi, Bisa Bawa Hingga 64 Kg
-
Patra Jasa Perkuat Strategi ESG Lewat Dekarbonisasi