- Harga minyak mentah dunia melonjak lebih dari dua persen pada Senin, 14 September 2026.
- Kenaikan dipicu oleh serangan kelompok Houthi di Arab Saudi serta insiden penyerangan kapal di Teluk.
- Dampak serangan memperparah krisis pasokan global akibat penutupan pipa minyak strategis milik Arab Saudi.
Suara.com - Harga minyak mentah dunia melonjak lebih dari 2 persen pada perdagangan Senin (14/9/2026), mendorong kontrak berjangka minyak Brent nyaris menembus level 108 dolar AS per barel.
Lonjakan ini dipicu oleh serangan baru kelompok Houthi di Arab Saudi serta serangan terhadap kapal-kapal di kawasan Teluk, yang semakin memperparah krisis pasokan global pasca tertutupnya jalur pipa minyak strategis milik Saudi.
Mengutip dari Reuters, kontrak berjangka minyak Brent naik 2,90 dolar AS atau 2,77 persen ke posisi 107,51 dolar AS per barel pada pukul 23.13 GMT.
Sementara itu, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) menguat 2,27 dolar AS atau 2,27 persen menjadi 102,32 dolar AS per barel. Pada awal pembukaan pasar, harga sempat meroket hingga di atas 3 persen.
Kenaikan tajam ini merupakan akumulasi dari lonjakan mingguan sebesar 8 persen, yang membuat harga minyak kembali bertengger di atas level 100 dolar AS untuk pertama kalinya sejak Juli.
Eskalasi keamanan memanas setelah media pemerintah Arab Saudi merilis rekaman video kerusakan permukiman warga dan masjid di Provinsi Jazan akibat serangan Houthi pada Minggu. Di sisi lain, kelompok Houthi mengklaim telah menghantam basis militer Saudi di provinsi tetangga.
Gangguan terhadap jalur logistik energi turut dikonfirmasi oleh Badan Keamanan Maritim Inggris (UKMTO) yang melaporkan sebuah kapal di Selat Hormuz terkena hantaman proyektil hingga memicu kebakaran dan evakuasi awak kapal. Pemerintah Iran juga melaporkan satu orang tewas dan empat awak terluka setelah kapal komersial mereka diserang di lepas pantai.
Pasar energi sebelumnya telah bersiaga menghadapi lonjakan harga akibat penutupan pipa minyak utama Arab Saudi, East-West Pipeline, pada Jumat lalu akibat serangan drone yang berasal dari Irak.
Hilangnya kapasitas pipa tersebut—yang selama ini menjadi jalur alternatif bagi Saudi untuk menghindari Selat Hormuz—mengancam hingga 4 persen pasokan minyak global.
Tekanan kian bertambah setelah kelompok Houthi menguasai Pulau Perim yang strategis pada Jumat, memperketat cengkeraman mereka atas Selat Bab el-Mandeb sebagai jalur pengiriman 4 persen hingga 5 persen pasokan minyak dunia dalam beberapa bulan terakhir.
Analis Pasar IG, Tony Sycamore, menilai risiko kenaikan harga masih membayangi pasar minyak global dalam waktu dekat.
"Kecuali perundingan pekan ini di Oman menghasilkan kesepakatan operasional atau pipa East-West dapat segera beroperasi kembali, risiko harga minyak mentah untuk terus merangkak naik menuju level tertinggi awal Maret di kisaran 119,48 dolar AS per barel masih sangat terbuka," ujar Sycamore.
Harapan meredanya ketegangan melalui pertemuan terjadwal di Oman antara negara-negara Teluk dan Iran untuk membahas keamanan Selat Hormuz dipastikan tertunda. Menteri Luar Negeri Oman, Badr Albusaidi, mengkonfirmasi lewat akun media sosial X bahwa agenda pertemuan pada Senin tersebut resmi ditunda.
Hingga saat ini, belum ada perundingan damai lanjutan yang digelar sejak runtuhnya kesepakatan sementara pada Juni lalu, menyusul konflik yang telah berlangsung selama enam bulan terakhir.