Purbaya Klaim APBN Masih Aman Meski Harga Minyak Dunia Lebihi 100 Dolar AS per Barel

Minggu, 13 September 2026 | 15:23 WIB
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. [Dok. Kemenkeu]
  • Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan kondisi APBN Indonesia tetap aman meskipun harga minyak dunia melampaui 100 Dolar AS per barel pada Minggu (13/9/2026).
  • Pemerintah menetapkan asumsi defisit APBN 2,85 persen dari PDB dan mencatat defisit per Agustus 2026 berada di kisaran 0,95 persen.
  • Pemerintah memastikan belum ada pembatasan kuota BBM subsidi sehingga daya beli masyarakat umum tidak terganggu oleh kenaikan harga minyak.

Suara.com - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengklaim kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap aman meskipun harga minyak dunia kini tembus melebihi 100 Dolar AS per barel.

"Anggaran masih cukup seperti yang kita hitung sebelumnya," kata Menkeu Purbaya, dikutip Minggu (13/9/2026).

Bendahara Negara juga memastikan belum ada keputusan untuk membatasi kuota Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi. Namun Pemerintah akan terus mewaspadai perkembangan konflik Amerika Serikat vs Iran yang terjadi di Timur Tengah.

"Kita waspadai terus perkembangannya, jangan sampai naik lebih tinggi lagi," lanjutnya.

Purbaya menerangkan kalau Pemerintah sudah menetapkan asumsi defisit APBN sebesar 2,85 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) tahun ini, dengan asumsi rata-rata harga minyak dunia 100 Dolar AS per barel.

Untuk saat ini, imbuhnya, rata-rata harga minyak dunia masih di kisaran 90 Dolar AS per Barel. Dengan demikian APBN masih aman untuk membayar kebutuhan BBM subsidi.

"Jadi masih ada ruang. Mudah-mudahan kita enggak naik, harga minyak dunia enggak naik lebih tinggi lagi," katanya.

Purbaya juga percaya diri jika harga minyak dunia terus tinggi. Sebab Indonesia pernah mengalami kondisi serupa. Lebih lagi defisit APBN per Agustus 2026 masih di kisaran 0,95 persen dari PDB.

"Tapi seandainya naik ke level yang sekarang, bertahan di sini pun, kita kan sudah pernah mengalami. Jadi enggak usah terlalu khawatir, kita akan atur anggaran kita tetap berkesinambungan dengan defisit tetap ditekan di bawah 3 persen. Sekarang saja defisitnya baru 0,91 Juli, Agustus 0,95 lah enggak naik banyak," paparnya.

Lebih lanjut Purbaya juga menilai kalau kenaikan harga minyak dunia tidak berpengaruh banyak ke daya beli masyarakat. Sebab mayoritas dari mereka masih menggunakan BBM subsidi seperti Pertalite, meskipun pengguna BBM non subsidi seperti Pertamax bakal terpengaruh.

"Sebagian mungkin yang Pertamax dan yang enggak bersubsidi akan terkena. Tapi kan masyarakat umum daya belinya enggak terganggu, yang umum yang pakai Pertalite kan masih disubsidi kan," jelas Purbaya.

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com