Rupiah Babak Belur! Tembus Level Rp17.624 per Dolar AS Pagi Ini

Senin, 14 September 2026 | 10:39 WIB
Rupiah dan dolar Amerika Serikat. [Antara]
  • Nilai tukar rupiah terperosok ke level Rp17.624 per dolar AS pada perdagangan Senin, 14 September 2026.
  • Pelemahan rupiah dipicu oleh kebangkitan indeks dolar AS serta kenaikan harga minyak mentah dunia di atas US$100 per barel.
  • Depresiasi mata uang terhadap dolar AS juga dialami oleh mayoritas mata uang utama lainnya di kawasan Asia.

Suara.com - Nilai tukar mata uang Garuda kembali harus mengawali perdagangan awal pekan ini dengan langkah yang berat. Tekanan di pasar keuangan global membuat pergerakan rupiah terus melanjutkan tren depresiasi yang sudah membayangi sejak pekan sebelumnya.

Dominasi mata uang negeri Paman Sam tampaknya masih menjadi tantangan utama bagi stabilitas nilai tukar instrumen valuta asing di kawasan pasar berkembang.

Mengacu pada pembaruan data perdagangan yang dirilis oleh Bloomberg, nilai tukar rupiah pada pembukaan pasar hari Senin, 14 September 2026, terperosok ke level Rp17.624 per dolar Amerika Serikat (AS).

Posisi pembukaan awal pekan ini menunjukkan pelemahan sebesar 13 poin atau mengalami depresiasi sekitar 0,07 persen apabila dikomparasikan dengan penutupan perdagangan pada hari sebelumnya yang tertahan di level Rp17.611 per dolar AS.

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyoroti dinamika yang sedang terjadi di pasar uang saat ini. Menurutnya, fluktuasi nilai tukar ini turut dipengaruhi oleh sejumlah faktor internal, di samping adanya fakta bahwa pergerakan indeks dolar AS mulai menunjukkan sinyal kebangkitan atau rebound yang merespons sentimen makroekonomi di negara tersebut.

"Rupiah menguat terhadap dolar AS setelah data inflasi AS yg lebih kuat dari perkiraan memicu kenaikan kembali pada imbal obligasi AS," katanya saat dihubungi Suara.com.

Kendati terdapat berbagai tarik ulur sentimen, pelemahan mata uang domestik ini diproyeksikan masih akan terus berlanjut.

Ancaman utama yang mengintai pergerakan pasar datang dari bursa komoditas energi, di mana tren laju harga minyak mentah dunia berpotensi memberikan sentimen negatif berlapis dan membebani laju rupiah lebih dalam.

"Harga minyak mentah dunia yang juga terus naik melewati US$100 per barel ikut memberikan tekanan pada rupiah. Range Rp17.550-Rp17.700," jelasnya.

Kondisi tertekannya nilai tukar ini ternyata tidak hanya dialami secara eksklusif oleh Indonesia. Arus penguatan dolar AS pada pagi ini terpantau memukul mundur mayoritas mata uang utama di kawasan Asia.

Berdasarkan papan perdagangan valuta asing, mata uang Won Korea Selatan mencatatkan rapor pelemahan paling dalam di kawasan regional dengan penyusutan mencapai 0,25 persen.

Menyusul di belakangnya, Baht Thailand turut terdepresiasi sebesar 0,21 persen, disusul oleh Peso Filipina yang melemah 0,19 persen. Tekanan beruntun ini juga dirasakan oleh Dolar Taiwan yang terkoreksi 0,14 persen, serta Yen Jepang yang harus rela melemah 0,12 persen di hadapan dolar AS pada sesi pembukaan.

Depresiasi dalam skala yang lebih ringan turut menimpa Dolar Singapura yang melemah 0,09 persen, Ringgit Malaysia dengan koreksi 0,03 persen, serta Dolar Hong Kong yang turun tipis 0,008 persen.

Di tengah gempuran dolar AS yang menekan nyaris seluruh instrumen valas Benua Kuning tersebut, Yuan China tampil sebagai satu-satunya mata uang di Asia yang berhasil mengamankan posisi di zona hijau dengan mencatatkan penguatan minor sebesar 0,06 persen pada awal perdagangan pagi ini.

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com