3 Orang Ditembak Mati Jelang Pemilu Perdana di Bangsamoro Filipina

Senin, 14 September 2026 | 10:28 WIB
Ilustrasi penembakan dengan senjata api (pixabay)
  • Pemilihan parlemen perdana di wilayah otonom Muslim Filipina Selatan diwarnai aksi penembakan maut Cotabato.

  • Penembakan akibat perebutan antrean TPS menewaskan tiga orang dan melukai 15 warga lainnya.

  • Lebih dari dua juta pemilih menyalurkan hak suara di bawah pengawalan 20.000 personel keamanan.

Suara.com - Masyarakat kawasan otonom Muslim di Filipina Selatan tetap memadati tempat pemungutan suara untuk memilih anggota parlemen pertama mereka. Langkah bersejarah ini diwarnai insiden penembakan maut yang menewaskan sedikitnya 3 orang hanya beberapa jam sebelum pencoblosan dimulai.

Lebih dari dua juta pemilih terdaftar menggunakan hak suara mereka untuk menentukan 80 kursi parlemen yang diperebutkan oleh 13 partai politik. Pengawasan ketat dari aparat keamanan dan tank baja mengawal ketat antrean pemilih yang mengular sejak pagi hari.

Antusiasme warga terpancar jelas di Marawi, wilayah yang sebelumnya pernah menjadi medan pertempuran sengit antara pasukan pemerintah dan kelompok milisi. Suasana haru dan waswas menyelimuti para pemilih pemula yang berharap babak baru ini membawa kedamaian permanen.

Ilustrasi seorang pelaku penembakan mengenggam senjata api untuk mengancam korbannya. (ANTARA/Shutterstock).

"Kami sangat bersemangat, kami datang ke sini sejak pagi-pagi sekali," kata Mohammad Actar Macabada, seorang pemilih berusia 18 tahun yang baru saja menyalurkan suaranya, dikutip dari CNA, Senin (14/9/2026).

"Saya gugup karena takut terjadi kekacauan. Dulu sering terjadi kerusuhan, tetapi sekarang situasinya damai. Saya sangat tidak sabar menunggu hasilnya," tambahnya.

Para pemimpin partai politik menyadari betul bahwa indikator utama keberhasilan pemilu di wilayah ini adalah ketiadaan bentrok fisik. Sejarah panjang persaingan antarklan dan pertumpahan darah membuat stabilitas keamanan menjadi ujian terberat bagi panitia penyelenggara.

Keretakan ketentraman tersebut terbukti nyata ketika rentetan tembakan meletus di luar bangunan sekolah yang dijadikan tempat pemungutan suara di Kota Cotabato. Insiden mematikan di ibu kota wilayah tersebut memicu korban jiwa dan melukai 15 orang lainnya menjelang tengah malam.

Bentrokan bersenjata itu berawal dari perselisihan antarpendukung faksi politik yang saling berebut posisi antrean paling depan di lokasi pemungutan suara. Situasi memanas dengan cepat hingga memicu pergulatan fisik yang berujung pada aksi penembakan di tengah kerumunan massa.

"Ini berawal dari perebutan posisi dalam antrean antara dua kelompok," kata kepala polisi Cotabato, Jibin Bongcayao, mengenai penembakan di luar sekolah yang digunakan sebagai TPS di ibu kota wilayah tersebut.

"Hal itu menyebabkan saling dorong, meluas menjadi perkelahian fisik, dan akhirnya tembakan meletus di area yang padat," ungkapnya.

Anggota kelompok yang terlibat pertikaian tersebut diketahui berasal dari partai-partai rival yang lahir dari pembentukan Front Pembebasan Islam Moro. Organisasi tersebut sebelumnya memimpin perlawanan bersenjata selama berpuluh-puluh tahun demi menuntut otonomi daerah di negara yang mayoritas penduduknya beragama Katolik.

Mengantisipasi gelombang susulan, lebih dari 20.000 personel keamanan disebar di seluruh penjuru wilayah otonom untuk mengamankan lokasi pencoblosan. Tim gerak cepat juga disiagakan di titik-titik rawan guna meredam potensi bentrok antarfaksi yang sewaktu-waktu dapat meledak kembali.

Ancaman keselamatan terhadap pejabat daerah sebenarnya sudah terlihat meningkat sejak beberapa pekan sebelum hari pemungutan suara digelar. Iring-iringan kendaraan yang membawa penjabat kepala menteri wilayah tersebut sempat disergap dan dihujani tembakan oleh kelompok misterius.

Selain penembakan di Cotabato, sebuah ledakan misterius juga terjadi di dekat tempat pemungutan suara lainnya dan merenggut satu korban jiwa di rumah sakit. Polisi setempat hingga kini masih melakukan penyelidikan mendalam untuk mengungkap penyebab pasti ledakan tersebut.

Pemilihan umum anggota parlemen ini merupakan puncak dari proses perdamaian panjang yang dirintis sejak akhir tahun 1990-an. Kesepakatan historis tersebut melahirkan Bangsamoro Autonomous Region in Muslim Mindanao (BARMM) sebagai wujud otonomi khusus di wilayah Filipina Selatan.

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com