- PT Bayan Resources Tbk mengumumkan force majeur akibat belum disetujuinya RKAB 2026 oleh Kementerian ESDM.
- Kondisi tersebut menyebabkan saham BYAN anjlok 8,11 persen menjadi Rp10.200 per lembar saham pada perdagangan Selasa sore.
- Di tengah krisis tersebut, taipan Haji Isam dikabarkan sedang bernegosiasi untuk mengambil alih Bayan Resources dengan harga murah.
Suara.com - Saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) anjlok pada Selasa (15/9/2026) setelah perusahaan mengumumkan keadaan force majeur pada pekan lalu.
Bayan menyatakan force majeur karena tiga anak usahanya PT Tiwa Abadi, PT Tanur Jaya, serta PT Fajar Sakti Prima belum juga mendapat persetujuan pemerintah terkait perubahan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya atau RKAB 2026. Alhasil perusahaan-perusahan itu tak bisa memenuhi kewajiban pasokan batu bara kepada klien-klien mereka.
Dinamika menarik ini terjadi ketika Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam, taipan yang sedang dekat dengan Presiden Prabowo Subianto, dikabarkan akan mengambil alih Bayan dengan harga super murah.
Pada Selasa sore, saham BYAN anjlok 8,11 persen menjadi Rp10.200 per lembar. Bahkan sebelum Sesi 1 berakhir pada siang tadi, BYAN sempat diperdagangkan di kisaran Rp10.075 per lembar.
Kisruh RKAB 2026 dan Haji Isam
Direktur Bayan Resources Low Yi Ngo awal pekan ini mengumumkan keadaan force majeur atau kahar kepada pelanggan terkait kewajiban penyediaan batubara berdasarkan perjanjian atau Coal Supply Agreement.
Ia menjelaskan, kondisi kahar tersebut disebabkan persetujuan atas perubahan RKAB 2026 ketiga anak usaha BYAN belum disetujui oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.
“Mengingat ketetapan persetujuan RKAB diperlukan agar anak-anak perusahaan BYAN dapat menjalankan kegiatan produksi batu bara-nya secara sah, kondisi saat ini mempengaruhi kemampuan perseroan dan anak-anak perusahaannya,” tulis Low dalam keterbukaan informasi, Senin (14/9/2026).
Perseroan berharap pengumuman ini dapat meminimalis risiko atau konsekuensi yang berpotensi berdampak pada perseroan dan anak-anak usahanya.
Di saat yang sama, Bayan dikabar sedang ditawar oleh Haji Isam dengan harga super murah. Diwartakan pada pekan lalu, Haji Isam ingin mengambil alih BYAN dari pemiliknya konglomerat Low Tuck Kwong dengan diskon hingga 80 persen.
Meski demikian, menurut Bloomberg, saham keluarga Low di BYAN sejak lama diperkirakan akan dilepas dengan harga murah. Ada dua alasan dalam hal ini.
Pertama, porsi saham publik (free float) yang relatif terbatas pada akhirnya akan memaksa Low untuk melepas sebagian saham sesuai tuntutan regulator.
Kedua industri tambang batu bara saat ini dibayangi prospek moderat, seiring transisi ke arah energi bersih. Selain itu di dalam negeri industri batu bara sedang tertekan karena pemerintah membatasi kuota produksi.
Saat ini kabarnya Haji Isam dan keluarga Low sedang bernegosiasi. Suara.com sudah menghubungi BYAN, tetapi belum mendapatkan jawaban.