- Nilai tukar rupiah terperosok ke level Rp17.737 per dolar AS pada perdagangan Rabu, 16 September 2026.
- Pelemahan rupiah dipicu oleh kenaikan harga minyak mentah dunia serta antisipasi kebijakan moneter ketat The Fed.
- Mayoritas mata uang Asia ikut melemah di hadapan dolar AS, sementara sebagian lainnya tetap mencatatkan penguatan.
Suara.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih terus berada dalam bayang-bayang tekanan sentimen negatif di pasar keuangan global. Pada pembukaan perdagangan hari Rabu (16/9/2026), pergerakan mata uang Garuda kembali terperosok ke zona merah dan belum menunjukkan sinyal pembalikan arah yang signifikan.
Berdasarkan data pemantauan dari Bloomberg, rupiah mengawali sesi perdagangan pagi ini dengan dibuka pada level Rp17.737 per dolar AS. Posisi tersebut menunjukkan adanya pelemahan sebesar 43 poin atau mengalami penyusutan sekitar 0,24 persen apabila disandingkan dengan posisi penutupan pada perdagangan hari sebelumnya yang bertengger di angka Rp17.694 per dolar AS.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, membedah faktor-faktor pemicu tren depresiasi yang sedang melanda nilai tukar rupiah. Menurutnya, rentetan pelemahan ini sangat erat kaitannya dengan pergerakan agresif di pasar komoditas, terutama harga minyak mentah yang terus merangkak naik, serta dinamika di pasar obligasi AS.
"Rupiah melemah terhadap dolar AS, di tengah imbal hasil obligasi AS dan harga minyak dunia yang masih terus naik," kata dia saat dihubungi Suara.com.
Selain tekanan dari pasar komoditas, Lukman juga menyoroti adanya sentimen dari pasar global yang memicu kewaspadaan di kalangan investor. Pelaku pasar saat ini tengah mengantisipasi dan bersiap menghadapi potensi sikap moneter ketat atau hawkish dari bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), pada pengumuman kebijakan yang dijadwalkan berlangsung pada malam hari ini.
Ekspektasi akan keputusan The Fed tersebut diproyeksikan bakal terus menjadi katalis pendorong penguatan indeks dolar AS. Dengan mempertimbangkan dinamika sentimen ganda tersebut, pergerakan nilai tukar rupiah diestimasikan akan berfluktuasi dan tertahan pada kisaran level Rp17.600 hingga Rp17.750 per dolar AS.
Gempuran sentimen hawkish dari The Fed dan lonjakan harga energi ternyata tidak hanya memukul mata uang domestik Indonesia. Pantauan di papan perdagangan valuta asing Asia menunjukkan bahwa mayoritas mata uang di kawasan regional ikut takluk di hadapan keperkasaan dolar AS pada pagi ini.
Mata uang Won Korea Selatan mencatatkan rapor pelemahan paling dalam dengan koreksi mencapai 0,44 persen. Tren negatif ini kemudian disusul oleh Yen Jepang yang terdepresiasi sebesar 0,15 persen, serta Baht Thailand yang mengalami pelemahan tipis sebesar 0,04 persen.
Tekanan yang sama turut menyeret Dolar Singapura ke zona pelemahan dengan koreksi 0,04 persen. Diikuti oleh Dolar Taiwan yang merosot 0,02 persen, dan Yuan China yang melemah sangat tipis di kisaran 0,01 persen.
Kendati dolar AS mendominasi jalannya perdagangan, masih terdapat segelintir mata uang Asia yang berhasil melakukan perlawanan dan mencatatkan penguatan. Ringgit Malaysia tampil impresif dengan memimpin penguatan sebesar 0,25 persen terhadap dolar AS. Menyusul di belakangnya, Peso Filipina turut terapresiasi sebesar 0,12 persen, sementara Dolar Hong Kong berhasil mengamankan posisi di zona hijau dengan penguatan terbatas sebesar 0,03 persen.