- Kementerian ESDM berencana menambah kuota BBM subsidi jenis solar akibat lonjakan konsumsi.
- Dirjen Migas Laode Sulaeman menyatakan antrean di Makassar mereda meski ditemukan kasus penimbunan BBM dengan kendaraan bermodifikasi.
- Fenomena El Nino di Kalimantan menyebabkan sungai mengering sehingga distribusi BBM dialihkan menggunakan truk tangki dengan waktu lebih lama.
Suara.com - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) membuka peluang untuk menambah kuota bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis solar untuk kendaraan bermesin diesel.
Kebijakan ini disiapkan untuk merespons lonjakan konsumsi BBM subsidi akibat beralihnya masyarakat dari bahan bakar non-subsidi, yang belakangan memicu antrean panjang di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Laode Sulaeman menuturkan peluang penambahan kuota khususnya dilakukan untuk BBM bersubsidi jenis solar. Namun demikian Laode belum dalam merinci lebih jauh, karena kewenangannya berada di Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas).
"Tetap dilakukan perhitungan-perhitungan, khususnya untuk solar ya, solar subsidi. Nanti mungkin yang akan menyampaikan lebih pasnya di BPH, lagi dihitung. Sepertinya akan ada penambahan kuota," kata Laode kepada wartawan di Jakarta yang dikutip pada Kamis (17/9/2026).
Terkait dengan antrean panjang kendaraan di SPBU-SPBU di Makassar, Laode menyebut sudah mulai melandai. Ia mengungkap selain, karena adanya perubahan pola konsumsi, ditemukan adanya upaya menimbun BBM bersubsidi.
"Kemarin di Makassar ditemukan adanya penimbunan, nah itu kita akan gali lebih jauh penimbunan-penimbunan itu. Itu penyimpangan itu, harus dibasmi," tegas Laode.
Didapati sejumlah kendaraan yang tangkinya dimodifikasi agar bisa menabung BBM bersubsidi sebanyak-banyaknya. Kini kasus tersebut tengah diusut.
Di sisi lain, fenomena El Nino yang terjadi juga menjadi tantangan dalam pendistribusian BBM bersubsidi. Seperti di Kalimantan sejumlah sungai mengering, sehingga tongkang tidak dapat melintas. Guna mengatasinya pendistribusian menggunakan truk tangki diperbanyak. Namun demikian proses pengirimannya menjadi jauh lebih lama dibanding jalur sungai.
"Makanya ada waktu tunggu yang harus disiapkan di SPBU-SPBU itu," pungkas Laode.