Mengapa Indonesia Alami Paceklik Beras Premium?

Selasa, 22 September 2026 | 16:39 WIB
Indonesia tengah menghadapi paceklik beras premium. Desain Suara.com/AI
BACA 10 DETIK
  • Stok beras melimpah, tapi beras premium justru langka di ritel.
  • Penarikan produk dan distribusi diduga ikut membuat rak beras kosong.
  • Bulog disiapkan memasok 75.000 ton beras premium per bulan.

Suara.com - Indonesia tengah menghadapi paceklik beras premium. Di satu sisi, pemerintah menyebut stok beras nasional melimpah. Namun di sisi lain, beras premium justru semakin sulit ditemukan di jaringan ritel modern.

Rak-rak beras premium di sejumlah supermarket hingga minimarket mulai kosong. Pilihan merek menyusut, bahkan sebagian rak disebut telah dialihfungsikan untuk memajang produk lain karena stok beras tidak tersedia.

Pengamat pertanian Khudori mengatakan kondisi tersebut bukan persoalan baru. Kelangkaan beras premium di jaringan ritel modern disebut telah berlangsung sekitar 4-5 bulan di sejumlah daerah.

"Sudah beberapa hari beras kosong. Karena ada penarikan produk," kata Khudori, Senin (21/9/2026).

Lantas, mengapa beras premium bisa langka ketika Indonesia disebut memiliki stok beras yang melimpah?

Berasnya Tidak Ada?

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menilai kelangkaan beras premium di ritel tidak sejalan dengan kondisi stok beras nasional.

Menurutnya, beras masih mudah ditemukan di pasar tradisional dengan harga yang relatif lebih rendah. Karena itu, kosongnya beras premium di jaringan ritel perlu ditelusuri lebih jauh.

"Jangan sampai ada yang memanfaatkan kondisi ini untuk bermain atau berlaku nakal. Padahal, berasnya sama," ujar Amran.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa persoalannya tidak selalu terletak pada jumlah beras secara nasional. Beras bisa saja tersedia dalam jumlah besar, tetapi belum tentu seluruh jenis, kualitas, merek, dan jalur distribusinya tersedia secara merata.

Dengan kata lain, surplus beras nasional tidak otomatis berarti rak beras premium di supermarket akan selalu penuh.

Jalur Distribusi Jadi Kendala?

Beras yang tercatat sebagai stok nasional melewati rantai perdagangan yang panjang sebelum sampai ke konsumen.

Ada beras yang berada di Bulog, penggilingan, pedagang, distributor, pasar tradisional hingga jaringan ritel modern. Sementara itu, beras premium memiliki karakteristik berbeda karena menyangkut standar mutu, merek, pengemasan, distribusi dan harga jual.

Karena itu, ketika terjadi gangguan pada salah satu mata rantai, beras premium dapat menghilang dari rak ritel meski secara nasional persediaan beras tetap besar.

Khudori menemukan kondisi tersebut secara langsung ketika mengecek sejumlah supermarket. Beras dari berbagai merek, terutama kategori premium, semakin terbatas. Di salah satu gerai, rak yang biasanya digunakan untuk beras bahkan telah diisi produk lain.

Di gerai lain, beras yang masih tersedia lebih banyak berasal dari jenis tertentu, seperti beras merah dan beras SPHP kualitas medium dari Bulog.

Ada Penarikan Produk

Salah satu persoalan yang muncul adalah penarikan produk dari jaringan ritel.

Khudori menyebut beras di salah satu gerai kosong setelah terjadi penarikan produk. Kondisi serupa juga ditemukan di sejumlah gerai lainnya.

Situasi ini berbeda dengan sekadar persoalan stok beras nasional. Ketika produk tertentu ditarik atau pasokannya tidak masuk ke jaringan ritel, konsumen tetap bisa kesulitan menemukan beras premium meski beras secara keseluruhan tersedia.

Kondisi tersebut juga mengingatkan pada persoalan beras tahun lalu ketika produk beras premium sempat menghilang dari sejumlah jaringan ritel setelah muncul isu mengenai dugaan beras oplosan.

Pemerintah Soroti Dugaan Permainan

Amran melihat persoalan kelangkaan beras premium perlu ditelusuri agar tidak dimanfaatkan pihak tertentu untuk memainkan pasokan dan harga.

Ia bahkan mengaitkannya dengan dugaan praktik curang dalam tata niaga beras yang sebelumnya ditemukan pemerintah.

Amran menyebut terdapat produk yang menurut perhitungannya semestinya berada di kisaran Rp13.000 per kilogram, tetapi dijual hingga Rp57.000 per kilogram.

"Bayangkan, harganya Rp13 ribu, dijual Rp57 ribu. Adil tidak itu?" ujarnya.

Amran juga menyebut dugaan praktik curang pada produk beras fortifikasi yang menurutnya merugikan masyarakat hingga Rp89 triliun.

Indonesia tengah menghadapi paceklik beras premium. Desain Suara.com/AI

Bulog Jadi Andalan

Untuk mengatasi keterbatasan pasokan di ritel modern, pemerintah mengandalkan Bulog.

Bulog menyatakan akan memasok 110.000 ton beras setiap bulan ke jaringan ritel. Jumlah tersebut terdiri atas 75.000 ton beras premium dan 35.000 ton beras medium.

Bulog juga menyiapkan 300.000 ton cadangan beras pemerintah untuk diolah menjadi beras premium dengan melibatkan Perpadi. Namun, menurut Khudori, rencana tersebut belum memperoleh persetujuan.

Langkah ini menunjukkan pemerintah tidak hanya berupaya menjaga stok beras nasional, tetapi juga memastikan stok tersebut masuk ke kanal distribusi yang dibutuhkan masyarakat perkotaan.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com