Kerugian Serangan Siber di Indonesia Diproyeksi Tembus Rp111 Triliun pada 2026

Kamis, 24 September 2026 | 12:37 WIB
Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti di Senayan JCC, Kamis (24/9/2026). [Suara.com/Rina]
BACA 10 DETIK
  • Gubernur BI Destry Damayanti menyatakan adopsi AI dan otomasi meningkatkan risiko kejahatan siber di Senayan JCC pada Kamis, 24 September 2026.
  • Kerugian akibat serangan siber di Indonesia pada tahun 2026 diperkirakan mencapai 6,2 miliar dolar AS atau sekitar Rp111 triliun.
  • Bank Indonesia bersama para pemangku kepentingan memperkuat kebijakan dan sistem pembayaran yang aman guna melindungi konsumen dari risiko tersebut.

Suara.com - Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti menyebutkan, bahwa adopsi kecerdasan artifisial (AI) dan otomasi yang semakin berkembang turut meningkatkan risiko kejahatan siber, penyalahgunaan data, fraud, hingga scam.

Destry menyebut, kerugian akibat serangan siber di Indonesia pada 2026 diperkirakan mencapai sekitar 6,2 miliar dolar AS atau sekitar Rp111 triliiun jika kurs rupiah ada disekitar Rp17.903 per dolar Amerika Serikat (AS).

“Adopsi AI dan otomasi yang sekarang ini terjadi, itu juga meningkatkan risiko cyber, penyalahgunaan data, serta fraud dan juga scam,” katanya di Senayan JCC, Kamis (24/9/2026)..

Dia menamahkan, pada tahun 2026 saja diperkirakan kerugian karena serangan cyber di Indonesia itu mencapai sekitar 6,2 miliar dolar AS.

Menurut Destry, kondisi tersebut menjadi perhatian bagi Bank Indonesia bersama industri dan pemangku kepentingan terkait untuk terus memperkuat kebijakan serta sistem pembayaran yang aman, sekaligus meningkatkan orientasi terhadap perlindungan konsumen.

“Oleh karena itu, Bank Indonesia bersama industri dan (pemangku kepentingan terkait) harus terus memperkuat kebijakan, sistem pembayaran yang aman, serta orientasi pada perlindungan konsumen,” kata Destry.

Ilustrasi Scam. [Pixabay]

Ia menegaskan, Bank Indonesia memiliki mandat untuk menciptakan dan mengembangkan sistem pembayaran yang aman, termasuk membangun ekosistem yang andal, aman, dan dapat dipercaya oleh masyarakat sebagai pengguna.

“Karena kami tentunya mendapatkan mandat bagaimana kita menciptakan dan mengembangkan sistem pembayaran yang aman. Tentu menjadi tugas kami untuk menciptakan sistem pembayaran yang termasuk dengan ekosistemnya yang tentunya andal, aman, dan juga bisa dipercaya oleh pengguna,” ujar Destry.

Di sisi lain, Destry menilai akselerasi digitalisasi di Indonesia perlu terus didorong ke depan.

Pemanfaatan teknologi digital, menurut dia, perlu berjalan seiring dengan penguatan keamanan dan perlindungan pengguna agar dapat mendukung pembentukan ekosistem ekonomi yang baik.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com