Kronologi Helikopter Pemadam Karhutla Jatuh di Sungai Barito Kalsel, 1 Kru WNI Hilang

Minggu, 08 November 2026 | 16:54 WIB
Helikopter jenis Eurocopter EC225LP Super Puma dengan nomor registrasi VH-HGM
BACA 10 DETIK
  • Helikopter Super Puma H-225 jatuh di Sungai Barito, Kalimantan Selatan, pada 8 November 2026 saat misi karhutla.
  • Kecelakaan tersebut mengakibatkan dua pilot asal Australia selamat, sementara seorang kru WNI bernama Yayan Supyansuri hilang.
  • Basarnas gabungan mengerahkan tim penyelamat ke lokasi untuk mencari korban hilang serta mengamankan bangkai helikopter tersebut.

Suara.com - Helikopter angkut jenis Super Puma H-225 dengan nomor registrasi VH-HGM dilaporkan jatuh di perairan Sungai Barito, Desa Tabatan, Kecamatan Kuripan, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, pada Minggu (8/11/2026).

Helikopter yang dikerahkan untuk operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tersebut mengalami kecelakaan saat tengah menjalankan misi penanggulangan bencana di udara.

Informasi pembaruan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengoreksi laporan awal yang sempat menyatakan seluruh awak selamat. Data termutakhir memastikan bahwa dari tiga orang kru di dalam helikopter, hanya dua orang yang berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat.

Kedua korban selamat tersebut merupakan pilot berkewarganegaraan Australia yang saat ini telah dilarikan ke fasilitas medis untuk mendapatkan penanganan darurat.

Sementara itu, satu awak kapal lainnya yang bertugas sebagai Helicopter Landing Officer (HLO), yakni Yayan Supyansuri yang merupakan Warga Negara Indonesia (WNI), hingga kini masih dinyatakan hilang. Tim SAR gabungan masih mengupayakan penyisiran intensif di sekitar area sungai untuk mengonfirmasi keberadaan korban.

Operasi SAR Gabungan Diterjunkan ke Lokasi

Merespon musibah ini, Basarnas Kantor SAR Banjarmasin bergerak cepat dengan mengoperasikan tim penyelamat (rescue team). Sebanyak 18 personel SAR diberangkatkan pada pukul 13.10 WITA dari Dermaga SAR Basirih menuju titik koordinat kecelakaan yang berjarak sekitar 141 kilometer atau 71 nautical miles.

Tim penyelamat dibekali armada dan sarana khusus bawah air, meliputi Rigid Inflatable Boat (RIB), peralatan selam komplit, serta alat pemindai bawah air Aqua Eye.

Berdasarkan kalkulasi perjalanan, tim SAR dijadwalkan tiba di lokasi pada pukul 18.10 WITA. Operasi pencarian korban hilang ini turut melibatkan dukungan personel dari unsur TNI AU, Polri, Babinsa, serta masyarakat lokal di sekitar Kecamatan Kuripan.

Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, Ph.D., menegaskan bahwa prioritas utama penanganan saat ini bertumpu pada pencarian korban hilang, pemulihan kesehatan dua pilot yang selamat, serta pengamanan fisik bangkai helikopter di tepi sungai.

BNPB juga siap memfasilitasi proses investigasi resmi bersama instansi terkait untuk mengungkap penyebab pasti kejatuhan armada tersebut agar tidak memicu spekulasi liar di publik.

Sebagai bentuk tindakan preventif pascainsiden, BNPB akan menggelar evaluasi keselamatan operasi udara penanganan karhutla secara menyeluruh. Audit teknis ini mencakup pemeriksaan kesiapan kelaikan armada, prosedur pengambilan air (water bombing), kualifikasi dan kesiapan awak pesawat, hingga mitigasi faktor cuaca dan medan geografis setempat.

"BNPB akan melakukan evaluasi keselamatan operasi udara secara menyeluruh. Evaluasi tersebut meliputi kesiapan teknis armada, prosedur pengambilan air (water bombing), kelaikan awak pesawat, hingga faktor cuaca dan karakteristik lokasi," kata Berton, pada Minggu (8/11/2026).

Meskipun diwarnai kecelakaan udara, BNPB memastikan bahwa komitmen pemadaman dan penanggulangan karhutla di wilayah Kalimantan Selatan tidak berhenti.

Operasi penanganan di lapangan akan tetap dilanjutkan secara optimal melalui penguatan tim darat diiringi evaluasi ketat terhadap penugasan kembali armada udara.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com