Perusahaan Asing Mulai Garap Industri Bioetanol di RI

Minggu, 27 September 2026 | 12:27 WIB
Ilustrasi bioetanol. [Ist]
BACA 10 DETIK
  • Perusahaan Black & Veatch berencana membantu Indonesia mengembangkan bioetanol untuk mengatasi tingginya impor metanol.
  • Kenneth Kong menyatakan konflik geopolitik di Timur Tengah menyebabkan harga metanol impor saat ini melambung tinggi.
  • Pengembangan metanol dari sumber daya lokal bertujuan untuk mengurangi beban biaya impor yang mahal.

Suara.com - Perusahaan konsultan infrastruktur Black & Veatch melihat peluang pengembangan bioetanol untuk Indonesia. Fungsinya bisa untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor metanol, seiring dengan meningkatnya kebutuhan bahan baku untuk produksi biodiesel.

Senior Managing Director for Infrastructure Advisory in Asia Pacific di Black & Veatch, Kenneth Kong, mengatakan pihaknya berperan sebagai penasihat teknik yang membantu mengidentifikasi teknologi yang dapat mengubah biogas dari fasilitas pengolahan menjadi bioetanol.

"Fungsi kami sebagai engineering advisor adalah untuk mengidentifikasi teknologi yang boleh atau mampu mengonversi biogas daripada plant menjadi biomethanol," ujarnya dalam paparannya dikutip Minggu (27/9/2026).

Ilustrasi Innova isi bahan bakar campuran Etanol (Suara x Gemini)

Kenneth menjelaskan, Indonesia saat ini masih mengimpor metanol untuk memenuhi kebutuhan domestik. Metanol yang digunakan Indonesia antara lain berasal dari Rusia, China, dan negara-negara di kawasan Timur.

Kondisi tersebut, kata dia, menjadi perhatian karena harga metanol disebut mengalami kenaikan. Hal ini disebabkan berbagai persoalan yang terjadi di kawasan negara Timur Tengah dengan kondisi geopolitik yang masih memanas.

"Harga methanol itu sekarang melambung karena ada banyak banyak masalah di negara timur. Maka dari itu kami memberikan beberapa solusi untuk Indonesia dan juga negara Asia Tenggara lainnya," jelasnya.


Karena itu, pengembangan metanol berbasis sumber daya lokal dinilai dapat menjadi salah satu strategi untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor. Hal itu bisa memangkas biaya produksi yang mahal 

"Salah satu strategi untuk pemerintah  adalah kami akan menolong mereka untuk membuat lebih banyak metanol dengan sumber tempatan dari lokal untuk mengurangkan beban biaya atas impor metanol," kata Kenneth.

Sementara itu,  Kenneth juga menjelaskan bahwa Black & Veatch memiliki cakupan bisnis di berbagai segmen industri dengan layanan yang disesuaikan dengan kebutuhan infrastruktur.

Untuk Indonesia dan kawasan Asia Pasifik, perusahaan tersebut antara lain berfokus pada sektor ketenagalistrikan dan gas, termasuk pembangkitan listrik bersama  serta sektor minyak dan gas baik pada kegiatan hulu maupun hilir.

Selain itu, Black & Veatch menangani pengolahan air limbah industri atau industrial wastewater, termasuk proses pengolahan air yang dihasilkan dari kegiatan industri.

Perusahaan tersebut juga menangani sektor pusat data (data center) di kawasan Asia-Pasifik. Layanan lainnya mencakup asset management, sustainability planning, program keamanan siber industri, transaksi dan merger serta akuisisi (M&A), hingga teknologi infrastruktur.

Kenneth mengatakan Black & Veatch juga memiliki keahlian dalam transaksi infrastruktur dan menjalankan kegiatan tersebut di kawasan Asia-Pasifik.

"Black & Veatch memiliki banyak segmen pasar. Sektor-sektor industri yang kami dukung memiliki banyak variasi, dan solusi atau layanan yang kami tawarkan bergantung pada kebutuhan infrastruktur advisory," pungkasnya.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com