- Deputi Gubernur BI Thomas A. M. Djiwandono menyatakan Bank Indonesia memperkuat layanan kebanksentralan untuk mendukung aktivitas ekonomi lintas negara pada Selasa (29/9/2026).
- Nilai transaksi Local Currency Transaction Indonesia dengan tujuh negara mitra mencapai 42,07 miliar dolar AS pada semester I 2026.
- CB Fest 2026 mengangkat tema ketahanan layanan keuangan guna menghadapi risiko geopolitik dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Suara.com - Bank Indonesia (BI) terus memperkuat layanan kebanksentralan yang andal, efisien, dan aman untuk mendukung kelancaran transaksi, pengelolaan keuangan, serta pelaksanaan kebijakan. Penguatan layanan tersebut dinilai penting seiring meningkatnya aktivitas ekonomi dan keuangan lintas negara.
Deputi Gubernur Bank Indonesia, Thomas A. M. Djiwandono mengatakan, kredibilitas kebijakan perlu berjalan seiring dengan kredibilitas operasional bank sentral.
“Kredibilitas kebijakan perlu didukung oleh kredibilitas operasional,” ujar Thomas dalam siaran pers yang diterima, Selasa (29/9/2026).
Menurut Thomas, layanan kebanksentralan mencakup penyelesaian transaksi operasi moneter, pengelolaan cadangan devisa, kerja sama keuangan internasional, pengelolaan cadangan emas, serta layanan kepada pemerintah dan industri keuangan.
Dalam konteks layanan kepada pemerintah, Bank Indonesia melakukan penatausahaan rekening pemerintah, transfer dana dan penyelesaian transaksi, serta penatausahaan utang luar negeri pemerintah.
Sementara bagi industri keuangan, BI melakukan penyelesaian transaksi surat berharga dalam rupiah dan valuta asing.
Perluasan konektivitas ekonomi dan keuangan lintas negara salah satunya tercermin dari kerja sama Local Currency Transaction (LCT) yang terus berkembang.
LCT mendorong penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral. Skema tersebut ditujukan untuk mendukung ketahanan eksternal dan stabilitas nilai tukar sekaligus memfasilitasi perdagangan dan investasi dengan negara mitra.
Saat ini, Indonesia telah mengimplementasikan kerja sama LCT dengan tujuh negara, yakni Malaysia, Thailand, China, Jepang, Korea Selatan, Uni Emirat Arab, dan Singapura.
Pada semester I 2026, nilai transaksi LCT mencapai 42,07 miliar dolar AS. Angka tersebut tumbuh 259 persen secara tahunan (yoy) dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang sebesar 11,72 miliar dolar AS.
Nilai transaksi pada semester I 2026 tersebut bahkan telah melampaui total transaksi LCT sepanjang 2025 yang tercatat sebesar 25,74 miliar dolar AS.
Bank Indonesia menyatakan kerja sama LCT akan terus diperluas dengan negara mitra lainnya.
Dalam kesempatan yang sama, Wakil Menteri Keuangan, Juda Agung mengatakan, ketahanan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menghadapi krisis, tetapi juga kemampuan beradaptasi dan menjaga kepercayaan publik.
"Ketahanan perlu dibangun sebelum krisis melalui kebijakan yang kredibel, institusi yang kuat, tata kelola yang baik, adaptasi berkelanjutan, serta kerja sama," katanya.
Karena itu, sinergi antara kebijakan fiskal, moneter, dan sektor keuangan diperlukan untuk merespons perubahan ekonomi dan perkembangan teknologi.