- Bulog siapkan Beras Kita Premium untuk kebutuhan MBG.
- Target penyaluran 300 ribu ton hingga Desember 2026.
- Sekitar 60 ribu ton sudah disalurkan ke pasar.
Suara.com - Perum Bulog menyiapkan beras premium khusus untuk memenuhi kebutuhan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Beras tersebut akan dipasarkan dengan kemasan dan nama Beras Kita Premium.
Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan perubahan kemasan tersebut dilakukan agar tidak muncul lagi anggapan bahwa beras yang digunakan dalam program MBG merupakan beras fortifikasi.
"Kalau beras MBG sesuai arahan Pak Mentan maupun Pak Menko, supaya tidak terlalu memusingkan, jadi tetap menggunakan beras premium nanti judulnya. Packaging-nya seperti ini, jadi Beras Kita Premium judulnya. Tidak ada lagi yang fortifikasi-fortifikasi, tidak ada," kata Rizal di Jakarta, dikutip Rabu (30/9/2026).
Di balik perubahan nama tersebut, Bulog menegaskan beras premium untuk MBG bukan berasal dari beras penugasan pemerintah atau Public Service Obligation (PSO). Beras tersebut merupakan produk komersial yang dibeli Bulog dari gabah hasil produksi petani.
"Jadi kalau teman-teman, yang namanya beras premium itu tidak ada subsidi. Jadi beras premium yang dibuat Bulog adalah beras komersialnya Bulog. Jadi Bulog belinya bukan pakai beras PSO, bukan beras yang subsidi," ujarnya.
Pemerintah menargetkan Bulog menyalurkan 300 ribu ton beras premium hingga Desember 2026. Namun, hingga saat ini realisasi distribusinya baru sekitar 60 ribu ton.
"Perintah pimpinan untuk menyalurkan 300.000 ton segera. Nah, itu kami sedang kejar. Nah, sekarang lebih kurang sudah hampir sekitar 60.000 ton kami sudah gelontorkan ke pasar, dari Sabang sampai Merauke," kata Rizal.
Artinya, Bulog masih harus menyalurkan sekitar 240 ribu ton untuk memenuhi target tersebut dalam waktu tersisa hingga akhir tahun.
Untuk mengejar target, Bulog menggandeng sekitar 868 penggilingan padi yang dinilai mampu menghasilkan beras premium. Bulog tidak hanya mengandalkan penggilingan berskala besar, tetapi juga melibatkan penggilingan kecil hingga menengah yang memenuhi standar produksi beras premium.
"Bukan penggilingan-penggilingan besar kayak Wilmar saja, Topi Koki, dan lain sebagainya. Tapi penggilingan-penggilingan kecil yang menengah ke atas yang mampu membuat beras premium kita libatkan," ujarnya.
Beras premium tersebut nantinya menggunakan merek Beras Kita, yang merupakan singkatan dari Beras Keluarga Indonesia Sejahtera. Bulog akan membedakan kemasan untuk beras medium dan premium.
"Jadi kita ubah namanya juga nanti Beras Kita Premium kalau yang premium. Nanti tinggal ganti aja, satu yang medium, satu lagi yang premium," kata Rizal.
Sementara itu, beras medium yang disalurkan melalui Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) masih menggunakan kemasan lama. Bulog baru akan menggantinya setelah kemasan baru selesai dicetak.