- Kementerian ESDM menjajaki kerja sama pengembangan energi terbarukan dengan Jepang dan Prancis pada Jumat, 2 Oktober 2026.
- Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung menyatakan Indonesia berencana mengadopsi teknologi pembangkit listrik tenaga air dari Norwegia.
- Pemerintah Indonesia menggandeng perusahaan Amerika Serikat untuk mengoptimalkan potensi cadangan energi hidrogen nasional yang belum tergarap.
Suara.com - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan ketertarikannya untuk menjalin kerja sama pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT) dengan sejumlah negara anggota G20.
Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung menyebutkan bahwa beberapa kesepakatan telah dijajaki bersama negara mitra seperti Jepang dan Prancis.
"Misalnya dengan beberapa negara kita ada kesepakatan ini kerja sama teknologi itu juga seperti dengan Jepang, dengan Perancis, itu juga sudah ada pembicaraan dan komitmen untuk bagaimana pengalaman mereka mengembangkan energi baru-terbarukan itu justru bisa diimplementasikan," ujar Yuliot saat ditemui wartawan di Kementerian ESMD, Jakarta pada Jumat (2/10/2026).
Kementerian ESDM melirik kerja sama pembangunan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dengan Norwegia.
Menurut Yuliot, Norwegia sukses memenuhi sebagian besar kebutuhan listriknya melalui pemanfaatan sumber daya air secara optimal.
"Seperti Norwegia, ketersediaan listrik mereka 90 persen berasal dari PLTA. Sementara kita memiliki cukup banyak potensi sungai besar tetapi belum dimanfaatkan secara maksimal," ujarnya.
Oleh karena itu, pemerintah akan mengadopsi teknologi dan pengalaman Norwegia untuk mengoptimalkan potensi kelistrikan nasional.
"Jadi dengan teknologi Norwegia, kita mengharapkan asistensi dari mereka. Apa yang kita miliki dan pengalaman mereka mengembangkan PLTA di wilayah mereka itu bisa kita adopsi," tambah Yuliot.
Tidak hanya itu, Kementerian ESDM turut menggandeng Amerika Serikat dalam pengembangan potensi energi hidrogen.
Pemerintah berencana bekerja sama dengan sejumlah perusahaan asal AS mengingat cadangan hidrogen di Indonesia dinilai cukup besar namun belum tergarap secara maksimal.
"Amerika Serikat kan mengembangkan hidrogen untuk sumber energi. Kita memiliki indikasi cadangan hidrogen yang cukup besar tapi belum diusahakan. Jadi, ini akan kerja sama juga dengan beberapa perusahaan dari Amerika," pungkasnya.