- Bank Indonesia mencatat volume transaksi pembayaran digital di Indonesia mencapai 5,15 miliar pada April 2026.
- Masyarakat diimbau mengelola aplikasi secara bijak, mengisi saldo secukupnya, dan rutin mencatat pengeluaran harian.
- OJK, Komdigi, serta industri perbankan pada Juli 2026 menegaskan pentingnya pengamanan akun dari segala modus penipuan.
Bank Indonesia menjelaskan bahwa QRIS memungkinkan berbagai aplikasi pembayaran menggunakan satu standar kode QR. Konsumen juga tidak dikenakan biaya tambahan hanya karena menggunakan QRIS. Namun, biaya layanan lain di luar pembayaran perlu tetap diperiksa. Dengan QRIS, transaksi menjadi lebih praktis tanpa harus membawa uang tunai dalam jumlah besar.
Aplikasi pencatatan keuangan agar pengeluaran tidak misterius
Selain aplikasi untuk membayar, gunakan juga aplikasi atau fitur pencatatan keuangan. Tujuannya sederhana: mengetahui ke mana uang pergi. Pengguna dapat memanfaatkan aplikasi pengelola anggaran, spreadsheet, atau fitur catatan transaksi di aplikasi perbankan.
Catat pengeluaran dalam beberapa kategori, misalnya: Kebutuhan pokok dan rumah tangga, transportasi dan makan tagihan rutin, liburan dan belanja, tabungan dan investasi.Dengan pencatatan yang konsisten, pengguna bisa mengetahui pengeluaran yang perlu dikurangi dan kebiasaan belanja yang perlu diperbaiki.
Jangan gunakan semua aplikasi sekaligus
Banyaknya pilihan layanan keuangan digital tidak berarti semuanya harus digunakan. Semakin banyak aplikasi, semakin banyak pula saldo yang harus dipantau, PIN yang perlu dijaga, dan riwayat transaksi yang harus diperiksa. Strategi yang lebih sederhana adalah membangun ekosistem keuangan digital sesuai kebutuhan. Dengan pembagian ini, setiap platform memiliki fungsi yang jelas. Pengguna juga lebih mudah mengevaluasi pengeluaran bulanan.
Top up digital: isi saldo secukupnya, bayar sebanyak-banyaknya
Top up atau pengisian saldo menjadi salah satu aktivitas yang paling sering dilakukan dalam transaksi digital. Praktis memang. Namun, ada kebiasaan yang perlu diwaspadai: mengisi saldo terlalu banyak karena merasa uang di dompet digital bukan lagi uang sungguhan. Padahal, saldo digital tetap merupakan uang yang kita miliki.
Tips melakukan top up secara cerdas dari Topupsaldo.com:
Pertama, tentukan anggaran sebelum mengisi saldo. Misalnya, anggaran transaksi digital untuk kebutuhan harian ditetapkan Rp500.000 per minggu. Jumlah tersebut bisa menjadi batas pengisian saldo, bukan target yang harus dihabiskan.
Kedua, sesuaikan saldo dengan kebutuhan. Jika dompet digital hanya digunakan untuk membayar transportasi dan makanan, isi saldo sesuai perkiraan kebutuhan beberapa hari ke depan. Tidak perlu menyimpan saldo besar apabila tidak ada kebutuhan mendesak.
Ketiga, periksa biaya top up. Setiap layanan bisa memiliki ketentuan biaya yang berbeda, tergantung metode pengisian dan kebijakan penyedia. Periksa biaya sebelum menyelesaikan transaksi.
Keempat, jangan melakukan top up hanya demi mengejar promo. Diskon, cashback, dan bonus saldo memang menarik. Namun, jika pengguna membeli sesuatu yang sebenarnya tidak dibutuhkan hanya demi mendapatkan promo, pengeluaran justru menjadi lebih besar.
Jangan abaikan keamanan transaksi
Semakin mudah transaksi dilakukan, semakin penting pula menjaga keamanan akun. Penipuan digital dapat memanfaatkan kelengahan pengguna, mulai dari pesan palsu, tautan berbahaya, hingga pihak yang mengaku sebagai petugas bank atau layanan pembayaran.
OJK, Komdigi, dan industri perbankan pada Juli 2026 juga menegaskan pentingnya penguatan upaya pemberantasan penipuan atau scam untuk membangun ekosistem keuangan digital yang aman dan terpercaya.
Beberapa langkah sederhana yang perlu dibiasakan:
- Jangan pernah memberikan PIN, kata sandi, atau kode OTP kepada siapa pun.
- Gunakan kata sandi yang berbeda untuk akun penting.
- Aktifkan autentikasi biometrik atau fitur keamanan tambahan jika tersedia.
- Hindari mengakses layanan keuangan melalui tautan yang dikirim orang tidak dikenal.
- Periksa nama penerima dan nominal sebelum menekan tombol bayar.
- Aktifkan notifikasi transaksi agar aktivitas mencurigakan lebih cepat diketahui.
Ingat, petugas layanan keuangan tidak membutuhkan kode OTP atau PIN pribadi untuk membantu menyelesaikan masalah akun.
Manfaatkan keuangan digital untuk membangun kebiasaan menabung
Keuangan digital bukan hanya alat untuk membelanjakan uang. Teknologi juga bisa dimanfaatkan untuk membangun kebiasaan menabung.
Salah satu caranya adalah memisahkan rekening untuk kebutuhan sehari-hari dan rekening untuk tujuan keuangan. Misalnya, setiap menerima penghasilan, pengguna langsung memindahkan sebagian uang ke rekening tabungan. Jika tersedia, manfaatkan fitur transfer terjadwal atau autodebit untuk membantu menjaga konsistensi.
Tentukan tujuan yang jelas, seperti membangun dana darurat, menyiapkan biaya pendidikan, atau merencanakan kebutuhan jangka panjang.
Untuk dana darurat, utamakan tempat penyimpanan yang mudah diakses dan sesuai dengan kebutuhan likuiditas. Jangan mencampurkan seluruh dana kebutuhan mendesak dengan instrumen investasi yang nilainya bisa berfluktuasi.
Pemanfaatan digital harus membuat keuangan lebih sehat
Keuangan digital menawarkan banyak kemudahan. Pembayaran semakin cepat, transfer semakin praktis, dan pencatatan transaksi semakin mudah. Namun, teknologi tidak otomatis membuat seseorang menjadi lebih bijak dalam mengelola uang.
Kuncinya adalah menggunakan platform sesuai kebutuhan, mengisi saldo secara terukur, mencatat pengeluaran, memahami risiko layanan, dan menjaga keamanan akun.
Pada akhirnya, tujuan keuangan digital bukan sekadar membuat kita bisa membayar apa saja dengan cepat. Tujuan utamanya adalah membantu kita mengelola uang dengan lebih mudah, aman, terencana, dan bertanggung jawab.