JARR-PGUN Jadi Agunan Saham, Begini Alasan Analis Kenapa Bank Mandiri Tetap Berani Terima

Kamis, 15 Oktober 2026 | 17:26 WIB
PT Jhonlin Agro Raya Tbk. (JARR). [ist].
BACA 10 DETIK
  • Nilai agunan saham JARR dan PGUN ditaksir mencapai Rp73 triliun.
  • Kredit untuk akuisisi 30,25% saham BYAN belum diketahui nilainya.
  • JARR dan PGUN masih mencetak laba dengan total ekuitas hampir Rp4 triliun.

Kas dan setara kas perseroan mencapai Rp456,9 miliar, sedangkan rasio utang terhadap ekuitas atau debt to equity ratio (DER) berada di sekitar 0,86 kali.

Meski penjualan mengalami penyesuaian dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, perusahaan masih mampu menghasilkan laba dan mencatatkan EBITDA positif.

Sementara itu, PGUN membukukan pendapatan Rp304,97 miliar dan laba bersih Rp44,51 miliar pada semester I-2026. Kendati labanya terkoreksi dibandingkan tahun sebelumnya, perusahaan tersebut masih berada dalam posisi menguntungkan.

PGUN memiliki total aset Rp2,42 triliun, liabilitas Rp502,55 miliar, dan ekuitas Rp1,92 triliun. Dengan posisi tersebut, perusahaan masih memiliki bantalan modal yang relatif besar dibandingkan kewajibannya.

Kinerja kedua emiten itu menjadi salah satu dasar bagi Gede untuk menilai bahwa saham yang dijadikan agunan berasal dari perusahaan yang masih menghasilkan keuntungan dan memiliki aset bernilai besar.

Kualitas agunan menjadi salah satu faktor yang dapat memberikan perlindungan kepada kreditur. Namun, penilaian risiko kredit tidak cukup hanya mengandalkan nilai pasar saham atau laporan keuangan perusahaan yang sahamnya dijaminkan.

Bank juga perlu memperhitungkan kemampuan debitur membayar pinjaman, besarnya fasilitas kredit, struktur pembiayaan, serta kemungkinan penurunan harga saham selama masa kredit.

Saham sebagai agunan memiliki risiko tersendiri karena nilainya dapat berubah mengikuti kondisi pasar. Jika harga saham turun tajam, nilai jaminan dapat menyusut dan memicu kebutuhan penambahan agunan sesuai ketentuan dalam perjanjian kredit.

Di sisi lain, kelompok usaha terkait memiliki eksposur terhadap kepemilikan sekitar 30,25% saham BYAN yang berpotensi menghasilkan pendapatan dividen. Namun, dividen tersebut tetap bergantung pada kinerja perusahaan, kebijakan pembagian laba, dan keputusan korporasi yang berlaku.

Gede menilai transaksi ini sebaiknya tidak hanya dilihat sebagai gadai saham bernilai jumbo. Kualitas fundamental perusahaan dan penerapan prinsip kehati-hatian oleh bank juga perlu menjadi pertimbangan.

“Dalam konteks itulah keputusan pembiayaan Bank Mandiri dapat dipandang sebagai keputusan bisnis yang didasarkan pada aset riil dan fundamental korporasi yang masih solid,” pungkasnya.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com