Pemerintah Tegur BEI Setelah IHSG Anjlok 11 Persen: Reformasi Harus Kelihatan

Jum'at, 16 Oktober 2026 | 13:04 WIB
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto meminta BEI memperlihatkan hasil reformasi pasar modal yang nyata setelah IHSG anjlok 11 persen pada Jumat (16/10/2026). [Antara]
BACA 10 DETIK
  • Menteri Airlangga Hartarto meminta BEI membenahi pasar modal akibat anjloknya IHSG 11,31 persen pada Jumat.
  • Penurunan terjadi setelah MSCI berencana mengubah klasifikasi pasar Indonesia menjadi Standalone Market karena masalah transparansi serta regulasi.
  • Pemerintah bersama KSSK, OJK, dan Bank Indonesia mengadakan rapat untuk membahas langkah lanjutan dan target pembenahan pasar.

Suara.com - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto meminta Bursa Efek Indonesia (BEI) menyiapkan langkah konkret untuk membenahi pasar modal nasional, menyusul anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga 11,31 persen setelah trading halt dibuka pada Jumat (16/10/2026).

Tekanan terhadap pasar saham terjadi setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengumumkan rencana mengubah klasifikasi pasar modal Indonesia menjadi Standalone Market. MSCI menyoroti sejumlah persoalan, termasuk aksesibilitas investasi, transparansi kepemilikan saham, dan tata kelola pasar modal.

Menanggapi kondisi tersebut, Airlangga mengatakan pembenahan pasar modal harus disertai langkah konkret dan jadwal pelaksanaan yang jelas. Menurutnya, perkembangan reformasi perlu terlihat oleh investor dalam negeri maupun asing.

“Nah, namun ini menjadi catatan bagi kita ke depan bahwa reform itu harus dijalankan dan progresnya itu harus kelihatan, terutama progresnya harus kelihatan bagi para investor, dalam negeri maupun luar negeri,” kata Airlangga di Jakarta, Jumat (16/10/2026).

Airlangga menjelaskan, salah satu perhatian utama MSCI adalah implementasi regulasi dan langkah aksi yang dilakukan oleh bursa. Pemerintah menilai persoalan tersebut perlu ditindaklanjuti agar proses pembenahan pasar modal berjalan lebih jelas.

“Concern paling utama implementing regulation, implementing langkah action dari bursa,” ujarnya.

Menurut Airlangga, MSCI kemungkinan menilai proses implementasi di Indonesia relatif lebih panjang dibandingkan dengan sejumlah negara lain. Hal tersebut menjadi salah satu aspek yang perlu dijelaskan oleh otoritas terkait.

“Ya mungkin dibandingkan berbagai negara periodenya relatif lebih panjang,” ucapnya.

Karena itu, pemerintah berencana membahas langkah lanjutan bersama pihak bursa. Airlangga berharap pembenahan yang dilakukan memiliki target dan jadwal yang terukur sehingga investor dapat memantau perkembangan pelaksanaannya.

“Nah, tentu kalau kita lihat terkait dengan bidang implementasi daripada regulasi terhadap tindakan yang dilakukan oleh pasar modal, ini kan mereka merasa periodenya agak panjang. Nah, tentu ini yang harus dijelaskan mengapa prosesnya membutuhkan waktu,” tutur Airlangga.

Di tengah tekanan pasar, Airlangga juga mengatakan pemerintah telah menjadwalkan pertemuan dengan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Bank Indonesia pada Jumat ini untuk membahas perkembangan yang terjadi.

Meski demikian, Airlangga menilai fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat dan gejolak yang terjadi saat ini lebih dipengaruhi sentimen pasar.

“Dan kembali lagi, kemarin kita sudah sampaikan bahwa sebetulnya kita punya fundamental ekonomi kuat, tetapi yang dimainkan kan sekarang faktor sentimental,” pungkasnya.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com